Isnin, 6 April 2009

Salahkah Bersikap Keras dalam Dakwah





www.syaukahkarimah.blogspot.com

Islam memiliki cara dan metode dalam berdakwah sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Tentunya hal itu tidak lepas dari bimbingan syari’at. Terkadang dakwah harus disampaikan dengan sikap lemah lembut dan terkadang dengan sikap keras, tegas, dan lugas.

Namun sikap yang kedua ini sering dianggap sebagai sikap yang salah dan tidak mengandung hikmah. Bahkan terkadang dianggap dapat menimbulkan akibat yang fatal bagi dakwah itu sendiri. Sehingga muncul protes dari berbagai pihak ketika salah seorang da’i bersikap keras, tegas dan lugas dalam dakwahnya. Fenomena ini tampak ketika salah seorang Ahlus Sunnah berdakwah kepada sunnah dan membela Ahlus Sunnah sekaligus membantah bid’ah dan ahlul bid’ah dengan tegas.

Maka muncul berbagai macam protes dari berbagai kelompok dakwah yang ada. Mereka menganggap bahwa sikap keras, tegas, dan lugas dalam dakwah tidak mencerminkan akhlak mulia karena mengandung kezhaliman terhadap pihak lain dan menyebabkan umat lari dari seruan dakwah. Anggapan mereka ini timbul dari prinsip dakwah mereka yang bathil berupa semboyan yang mengajak kepada perasatuan kaum Muslimin walaupun di atas kebathilan.

Setiap hal yang berakibat memecah-belah kaum Muslimin harus dijauhkan dari dakwah [1]. Fakta ini sering memunculkan di tengah-tengah dakwah mereka sikap basa-basi, tidak terus terang dan lemah lembut yang bukan pada tempatnya. Justru keberadaan dakwah mereka beserta segala sikap yang menyimpang itu menambah kekaburan bagi kaum Muslimin dalam menilai Al Haq. Sehingga banyak kaum Muslimin tak bisa membedakan antara yang haq dan yang bathil serta tak sedikit pula diantara mereka yang menyangka bahwa yang haq itu adalah bathil dan yang bathil itu adalah haq. Lalu bagaimana sebenarnya Islam berbicara tentang sikap keras, tegas, dan lugas dalam dakwah?

Untuk menjawab pertanyaan ini marilah kita lihat nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah serta beberapa penjelasan para ulama dalam masalah ini.

Nash Al Quran Dan As Sunnah Serta Penjelasan Para Ulama Tentang Sikap Keras Ketika Pengharaman Allah Dilanggar Dan Ketika Hukum Had Ditegakkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلاَ تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ "
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir …."
(QS. An Nur: 2)

Imam Bukhari dalam menafsirkan firman Allah yang berbunyi: " … janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah." Mengatakan: "Maksudnya adalah janganlah mencegah kalian untuk menegakkan hukum-hukum had karena belas kasihan kepada orang yang akan dihukum dan janganlah kalian memperingan pukulan agar tidak menyakitkan.

Pendapat ini adalah pendapat sekelompok Ahli Tafsir" (Tafsir Al Qurthubi jilid 6 halaman 111, cetakan Darul Kutub IImiyah) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam menafsirkan ayat di atas berkata: "Secara umum Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang segala perkara (baca: belas kasihan) yang diperintahkan oleh setan ketika memberikan siksa (pada setiap pelanggaran, pent.). Demikian pula terlebih khusu pada perbuatan-perbuatan keji.

Karena hal itu dibangun atas dasar cinta, syahwat atau kasih sayang yang dihiasi oleh setan dengan rasa kecenderungan hati dan sifat kasih sayang kepada para pelaku kekejian. Akhirnya, kebanyakan manusia disebabkan oleh penyakit ini masuk ke dalam sikap kurang cemburu dan kurang semangat (dalam menegakkan hukum-hukum Allah yang telah ditetapkan, pent.).

Mereka beranggapan bahwa sikap ini termasuk sikap kasih sayang, lemah lembut, dan akhlak mulia terhadap makhluk.

Padahal yang demikian adalah sikap yang menunjukkan kurang rasa cemburu, kerendahan, tidak agamis, dan keimanan yang lemah. Membantu mereka atas sikap yang demikian berarti saling tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan serta meninggalkan sikap untuk saling mencegah dari kekejian dan kemungkaran." (Daqaiqut Tafsir karya Ibnu Taimiyah 3/385)

Dalam sebuah hadits dari ‘Aisyah radliyallahu ‘anha, beliau berkata: "Tidaklah Nabiyullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ketika diberi dua pilihan melainkan beliau memilih yang paling mudah dari keduanya selama tidak mengandung dosa. Apabila mengandung dosa, maka beliau menjauhkan diri dari keduanya.

Demi Allah, beliau tidak pernah marah karena hal yang dilakukan terhadapnya kecuali jika pengharaman Allah dilanggar maka beliau marah karena Allah." (HR. Bukhari)

Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani menjelaskan dalam mengomentari hadits ini: "Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk memberi maaf kecuali terhadap haq-haq Allah (yang tidak ditunaikan)." (Fathul Bari karya Ibnu Hajar 5/576)

Imam Ar Razi rahimahullah berkata: "Sikap lemah lembut dan kasih sayang hanya diperbolehkan apabila tidak menyebabkan pengabaian terhadap salah satu haq Allah.
Jika sikap itu membawa kepada kondisi yang demikian maka tidak diperbolehkan." (At Tafsirul Kabir 9/64 dan Gharaibul Qur’an wa Gharaibul Furqan karya An Naisaburi 4/ 107)

Pada sebuah riwayat yang shahihah dari ‘Aisyah radliyallahu ‘anha diceritakan bahwa orang-orang Quraisy merasa belas kasihan terhadap seorang wanita dari Bani Makhzum yang telah mencuri.
Mereka berkata: "Tak ada seorang pun yang berani membicarakan tentang pembelaannya (terhadap wanita tersebut) kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam melainkan Usamah bin Zaid, kekasih Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam."

Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: "Apakah engkau (Usamah) memberi pembelaan bagi pelanggaran terhadap salah satu batas-batas Allah?!"

Kemudian beliau berdiri dan berkhutbah lalu bersabda: "Wahai sekalian manusia, tidaklah orang-orang sebelum kalian sesat melainkan karena apabila seorang yang mulia mencuri, mereka membiarkannya. Sedangkan apabila seorang yang lemah mencuri, mereka tegakkan hukuman atasnya.

Demi Allah, kalaulah seandainya Fatimah binti Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mencuri, aku akan memotong tangannya." (HR. Bukhari dalam Kitabul Hudud bab Karahiyah Syafaah Fil Hadd Idza Rufi’a Ilas Sulthan hadits nomor 6778, 12/87)

Nash Al Qur’an Dan As Sunnah Serta Penjelasan Para Ulama Tentang Sikap Keras Ketika Muncul Sikap Penentangan Dan Peremehan Terhadap Dakwah Al Qur’an telah menceritakan tentang sikap keras para Nabi terhadap kaum mereka yang menentang dakwah dan terus-menerus dalam kebodohan.

Sebagai contoh kita mendapatkan dalam Al Qur’an ucapan Nabi Nuh ‘Alaihis Salam kepada kaumnya yang menentang dakwahnya.

Allah berfirman menceritakan ucapan Nabi Nuh ‘Alaihis Salam: وَلَكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ " … akan tetapi aku memandang kalian sebagai kaum yang bodoh." (QS. Hud: 29)

Demikian pula Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam berkata kepada kaumnya sebagaimana yang diceritakan dalam Al Qur’an:

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لاَ يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلاَ يَضُرُّكُمْ ﴿٦٦﴾ أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ ﴿٦٧
﴾ Ibrahim berkata: "Maka mengapakah kalian menyembah selain Allah yaitu sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kalian.

Ah (celakalah) kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah. Maka apakah kalian tidak berakal." (QS. Al Anbiya’: 66-67)

Juga ucapan Nabi Luth ‘Alaihis Salam kepada kaumnya: تَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ ﴿١٦٥﴾ وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُ

رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ
"Mengapa kalian mendatangi jenis lelaki diantara manusia, kalian tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Rabb kalian untuk kalian bahkan kalian adalah orang-orang yang melampaui batas." (QS. Asy Syu’ara: I65-166)

DR. Fadll Ilahi setelah membawakan beberapa ayat di atas menyatakan:
"Pada ayat-ayat di atas terdapat teguran keras yang ditujukan kepada kaum –kaun para Nabi. Para Nabi bersikap demikian tatkala mereka mendapatkan penentangan, peremehan, dan pelecehan terhadap dakwah diri kaum mereka. Wallahu Ta’ala A’lamu Bish Shawab."

(Al Lin wa Ar Rifq, karya DR. Fadll Ilahi halaman 40) Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Nabi-Nya yang mulia, Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, untuk mendebat ahlul kitab dengan cara yang terbaik kecuali terhadap orang-orang yang berlaku zhalim diantara mereka.

Allah berfirman: وَلاَ تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلاَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَقُولُوا ءَامَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ "

Dan janganlah kalian berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang terbaik kecuali dengan orang-orang zhalim diantara mereka …." (QS. Al Ankabut: 46) Dalam ayat lain Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menggunakan sikap keras dan tegas ketika berhujjah dengan kaum munafik.

Allah berfirman: يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ "Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya." (QS. At Taubah: 73)

Ibnu Abbas radliyallahu 'anhu dalam menafsirkan ayat di atas berkata: "Allah memerintahkannya (yakni Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam) untuk berjihad (melawan) orang-orang kafir dengan pedang sedangkan orang-orang munafiq dengan lisan dan menghilangkan sikap lemah lembut terhadap mereka." (Tafsir Ath Thabari 14/358-359 dan Tafsir Al Baghawi 5/311)
Perintah ini telah dilaksanakan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dengan sebaik-baiknya.

Dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam berdakwah dengan mengancam kaum munafiq yang berpaling dari shalat jamaah di masjid.

Beliau bersabda: "Tak ada shalat yang lebih berat bagi kaum munafiq (selain) dari shalat fajar dan shalat Isya’. Kalau seandainya mereka mengetahui keutamaan pada keduanya niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan memerintahkan seorang muadzin (untuk beradzan) kemudian iqamah. Selanjutnya aku perintahkan seseorang mengimami manusia. Setelah itu aku nyalakan api dan aku bakar orang-orang yang tidak keluar untuk shalat." (HR. Bukhari)

Al Hafizh lbnu Hajar berkata:

"Dalam uraian hadits ini terungkap bahwa beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam melarang kaum munafiqdari meninggalkan shalat jamaah dengan ucapan. Sampai akhirnya mereka berhak mendapatkan ancaman dengan suatu hukuman yang akan beliau perbuat (kepada mereka).

Hal ini juga telah dijelaskan oleh Bukhari dalam Kitabul Asykhash dan Kitabul Ahkam, keduanya dalam bab tentang mengeluarkan ahli maksiat dan keraguan dari rumah-rumah mereka setelah diketahui." (Fathul Bari 2/130)

Disebutkan dalam Shahih Muslim bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mendoakan kejelekan terhadap orang yang tidak mau menjalani perintah beliau karena sombong. Dari Salamah bin Al Akwa’ radliyallahu 'anhu, bahwasanya seseorang makan di sisi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dengan tangan kirinya. Maka beliau bersabda: "Makanlah dengan tangan kananmu!" "Aku tidak bisa", jawab orang tersebut. Selanjutnya Nabi bersabda: "Engkau tidak akan pernah bisa." Tidak ada yang mencegahnya kecuali karena sombong. Dia (perawi) berkata: "Maka dia tidak mampu mengangkat tangannya sampai ke mulutnya." (HR. Muslim 2021, 3/1599)

Nash As Sunnah Dan Beberapa Penjelasan Para Ulama Tentang Sikap Keras terhadap Penyelisihan Syari’at Yang Dilakukan Oleh Orang-Orang Yang Tidak Pantas Hal Hal itu Terjadi pada Dirinya Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Mas’ud Al Anshari radliyallahu 'anhu, dia berkata: "Seorang laki-laki berkata (kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam):

"Wahai Rasulullah, hampir saja aku tidak mengerti shalat kami yang diimami oleh si fulan karena sangat panjang." Maka aku (perawi) tidak pernah melihat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam marah dalam menasehati yang lebih keras daripada hari itu. Beliau bersabda : "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah membuat orang lari. Maka barangsiapa shalat mengimami manusia hendaklah dia memperingan (shalatnya) karena diantara mereka ada orang yang sakit, lemah, dan orang yang memiliki kebutuhan." (HR. Bukhari)

Al ’Allamah Al ’Ainy berkata dalam mengomentari hadits di atas: "Pada hadits ini terdapat makna yang menunjukkan tentang bolehnya marah karena perkara-perkara agama yang diingkari." (‘Umdatul Qari’ 2/107)

Pada riwayat Imam Bukhari yang lain dari Abi Hurairah radliyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pernah melihat seseorang yang menggiring seekor unta yang akan disembelih di Mekah.

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: "Naiki unta itu!" Orang tersebut menjawab: "Sesungguhnya ini adalah unta yang akan disembelih di Mekah." Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: "Celaka kamu, naiki unta itu!" (Beliau menyatakan hal ini) pada kali yang ketiga atau kedua.

DR. Fadll Ilahi berkata: "Perkataan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam kepadanya 'Celaka kamu' adalah pendidikan agar dia kembali kepada (perintah) Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Karena dia mengetahui dengan jelas bahwa tidak boleh seorang Mukmin bersikap ragu dan menahan diri dari melaksanakan perintah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.

Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Al-Qurthubi. (Al Lin wa Ar Rifq halaman 52) Imam Ad Darimi telah meriwayatkan dari Jabir radliyallahu 'anhu bahwasanya Umar bin Khaththab radliyallahu 'anhu mendatangi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dengan membawa satu naskah dari Taurat seraya berkata: "Ya Rasulullah, ini adalah satu naskah dari Taurat." Kemudian beliau diam. Setelah itu beliau mulai membacanya. Wajah Rasulullah pun berubah. Maka Abu Bakr radliyallahu 'anhu berkata: "Celaka engkau, apakah engkau tidak melihat wajah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam? Umar menoleh kepada wajah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam seraya berkata: "Aku berlindung kepada Allah dari kemarahan Allah dan Rasul-Nya. Kami ridla Allah sebagai Rab (kami), Islam sebagai agama (kami), dan Muhammad sebagai Nabi (kami)." Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalau seandainya Musa muncul di hadapan kalian niscaya kalian akan mengikutinya dan meninggalkanku. Sungguh kalian telah sesat dari jalan yang lurus. Kalau seandainya Musa itu hidup dan mendapatkan kenabianku niscaya dia akan mengikutiku." (Sunan Ad Darimi nomor hadits 44, 1/95)

Imam Bukhari dalam Shahih-nya membuat dua bab yang berkaitan dengan masalah ini. Yang pertama, bab tentang marah dalam memberi nasehat dan pelajaran apabila dia melihat sesuatu yang dibenci.

Yang kedua, bab tentang perkara-perkara yang diperbolehkan marah dan bersikap keras karena perintah Allah Ta’ala. Kemudian Imam Bukhari membawakan beberapa hadits yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam marah dan bersikap keras ketika melihat sebagian shahabatnya melakukan perkara-perkara yang dibencinya[2].

Demikianlah beberapa dalil dan hujjah dari Al Qur’an dan As Sunnah serta beberapa perkataan para ulama yang berbicara tentang sikap keras, tegas, dan lugas dalam dakwah. Tentunya masih banyak yang lainnya. Kami sebutkan beberapa saja di atas untuk meringkas. Hakekat Sikap Keras Dalam Dakwah Penjelasan-penjelasan yang telah lalu menggambarkan kepada kita bahwa Islam sebenarnya juga mengajarkan untuk bersikap keras, tegas, dan lugas dalam dakwah di samping memerintahkan untuk bersikap lemah lembut pada tempatnya.

Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam masalah ini:

1. Sikap keras, tegas, dan lugas dilakukan setelah sikap lemah lembut dan kasih sayang dalam dakwah tidak berhasil merubah orang-orang yang terus-menerus dalam kemungkaran.
Syaikh Muhammad Amin Asy Syanqithi pernah berkata: "Ketahuilah bahwasanya dakwah ke jalan Allah (dilakukan) dengan dua cara. Pertama dengan cara lemah lembut dan kedua dengan cara kekerasan. Adapun cara yang lemah lembut yaitu berdakwah ke jalan Allah dengan hikmah dan memberikan nasehat yang baik. Apabila engkau berhasil dengan cara ini alangkah baiknya dan inilah yang diinginkan. Namun jika engkau tidak berhasil, gunakanlah cara kekerasan dengan pedang sampai hanya Allah sajalah yang diibadahi dan ditegakkan hukum-hukum-Nya, dilaksanakan perintah-perintah-Nya, serta ditinggalkan larangan-larangan-Nya.


Hal inilah yang telah diisyaratkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firman-Nya: لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ ‘
Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia ….’ (QS. Al Hadid: 25)

Pada ayat ini terdapat isyarat untuk menggunakan pedang setelah tegaknya hujah sehingga apabila kitab-kitab tidak bermanfaat maka batalyon pasukan sangat berguna (dalam merubah kemungkaran). Karena terkadang Allah mencegah suatu (kemungkaran) melalui para penguasa, tidak melalui Al Qur’an (yang dibacakan)." (Tafsir Adlwa’ul Bayan, Syaikh Muhammad Amin Asy Syanqithi 2/174-175)

2. Sikap keras, tegas, dan lugas dalam dakwah diperlakukan kepada orang yang menentang Al Haq dan menampakkan kefasikan dan kejelekannya secara terang-terangan. Imam Ahmad rahimahullah berkata: "Manusia membutuhkan bujuk rayuan dan sikap lemah lembut tanpa kekerasan saat mereka diajak kepada kebaikan kecuali seorang yang menentang (Al Haq) dan menampakkan kefasikan berserta kejelekannya secara terang-terangan. Maka wajib atasmu mencegahnya (dengan keras) dan mengumumkannya (di hadapan khalayak ramai), karena dahulu dikatakan bahwa tak ada kehormatan bagi seorang yang fasiq. Oleh sebab itu orang yang seperti ini tak ada kehormatan baginya." (Al Amru bil Ma’ruf Wa An Nahyu ‘Anil Munkar, Al Khallal halaman 47)

Al ‘Allamah Ibnu Qayyim Al Jauziyah berkata tentang makna firman Allah Ta’ala yang artinya: ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
"Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan peringatan yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang terbaik." (QS. An Nahl: 125) "
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tingkatan-tingkatan dakwah dan menjadikannya tiga bagian sesuai dengan keadaan orang yang didakwahi.
(Pertama), orang yang didakwahi adalah pencari dan pecinta Al Haq. Dia lebih mendahulukan Al Haq daripada yang selainnya bila dia mengetahuinya. Maka orang ini didakwahi dengan hikmah, tidak butuh diperingatkan (dengan ancaman) dan perdebatan.

(Kedua), orang yang didakwahi sibuk dengan selain Al Haq. Akan tetapi kalau dia mengetahuinya, dia akan lebih mendahulukan Al Haq dan mengikutinya. Maka orang ini butuh (didakwahi) dengan peringatan yang memberikan semangat dan peringatan yang memberikan ancaman.
(Ketiga), orang yang didakwahi suka menentang dan melawan (Al Haq). Maka orang ini perlu didebat dengan cara yang terbaik jika dia mau kembali. Kalau tidak, orang ini dibawa kepada kekerasan jika memungkinkan." (Fathul Majid Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh dengan ta’liq Syaikh bin Baz dan tahqiq Syaikh Asyraf bin Abdil Maqsud halaman 101)

3. Mempertimbangkan mashlahat dan madlarat yang akan timbul akibat sikap keras dan tegas dalam dakwahnya. Jika seorang da’i mempertimbangkan dengan praduga yang kuat dalam hatinya dan tanda-tanda yang ada di sekitarnya, bahwa dengan sikap keras dan tegas dalam dakwahnya akan menimbulkan kemungkaran yang lebih besar daripada kemungkaran yang dia cegah, atau akan luput suatu kebaikan yang lebih penting daripada kebaikan yang dia dakwahkan dengan cara yang keras, maka tidak boleh dia bersikap keras dan tegas dalam dakwahnya yang akan berakibat pada keadaan yang lebih fatal.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata tentang hal ini: "Sesungguhnya (dakwah) amar ma’ruf nahi munkar yang mengandung mashlahat dan menolak kerusakan perlu dilihat akibat yang muncul karenanya. Apabila berakibat hilangnya mashlahat (yang lebih penting) dan timbulnya kerusakan yang lebih besar maka tidaklah diperintahkan untuk berdakwah amar ma’ruf nahi mungkar. Bahkan haram bila kerusakan (yang timbul) lebih besar daripada mashlahatnya. Akan tetapi mengukur (besar dan kecil) mashlahat-mashlahat dan kerusakan-kerusakan (hendaklah) dengan timbangan syari’ah."

Selanjutnya beliau berkata: "Termasuk dalam hal ini adalah perbuatan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam membiarkan Abdullah bin Ubai dan para tokoh kemunafikan serta kejahatan yang semisalnya, karena mereka memiliki pengikut-pengikut (yang banyak). Menghilangkan kemungkaran (dari mereka) dengan cara menghukum mereka akan melenyapkan kebaikan yang lebih banyak. Sebab kaumnya akan marah dan membela dengan sikap fanatik.

Manusia pun akan lari (dari dakwah) bila mereka mendengar bahwasanya Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam membunuh shahabatnya." (Al Amru bil Ma’ruf wa An Nahyu ‘Anil Munkar, Al Khallal halaman 21)

Masalah ini juga dapat dilihat dalam kitab karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah yang berjudul I’lamul Muwaqqi’in 3/15-16. Demikianlah Islam berbicara tentang sikap keras, tegas, dan lugas dalam dakwah. Dari semua keterangan di atas ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil:

1. Islam mengajarkan untuk bersikap keras, tegas, dan lugas dalam dakwah ketika:
a. Timbulnya pelanggaran terhadap pengharaman-pengharaman Allah dan saat ditegakkan hukum-hukum had.
b. Timbulnya penentangan dan pelecehan terhadap dakwah.
c. Timbulnya penyimpangan dari syari’ah yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak pantas hal itu terjadi pada dirinya. Seperti orang yang paham tentang syari’at kemudian menyelisihinya. Demikian pula orang yang menentang Al Haq padahal telah ditegakkan hujah atasnya dan lain-lain.

2. Sikap keras, tegas, dan lugas dalam dakwah dibenarkan apabila:
a. Sikap lemah lembut dan kasih sayang tidak mampu merubah orang yang terus-menerus dalam kemungkaran.
b. Dilakukan pada orang yang menentang Al Haq dan menampakkan kefasikan beserta kejelekannya secara terang-terangan.
c. Menimbulkan mashlahat yang lebih besar daripada kerusakan.

3. Telah salah orang yang beranggapan bahwa Islam hanya mengajarkan dakwah dengan sikap lemah lembut dan kasih sayang saja.

4. Dakwah dengan sikap keras, tegas, dan lugas jika pada tempatnya bukanlah suatu kezhaliman.

5. Dakwah dengan sikap keras, tegas, dan lugas yang pada tempatnya termasuk dakwah Ilallah yang menggunakan hikmah. Karena Islam mengajarkan untuk berdakwah dengan sikap yang demikian pada tempatnya. Mustahil Islam mengajarkan sesuatu yang tidak mengandung hikmah. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala membalas kita dengan kebaikan dan pahala yang tidak terkira dan mudah-mudahan kaum Muslimin juga mendapatkan manfaat dengan membacanya. Wallahu A’lamu Bish Shawwab. --------------------------------------------------

---- [1] Penjelasan tentang semboyan yang menjadi prinsip dakwah mereka ini dapat dibaca lebih lanjut dalam Kitab Al Quthbiyah karya Syaikh Abu Ibrahim bin Shulthan Al Adnan. [2] Disadur dari buku Al Lin wa Ar Rifq karya DR. Fadll Ilahi halaman 34-53. (Dikutip dari majalah Salafy Edisi XV/Tahun 1417 H/1997 M, penulis Al Ustadz Abdul Mu'thi al Maidani, judul asli "Salahkah Sikap Keras Dalam Dakwah".)


http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=886

Ahad, 15 Februari 2009

Hari Ketulusan Cinta




Tarikh 14 Februari merupakan hari yang dianggap keramat oleh pasangan-pasangan yang sedang berkasih. Hari yang dikenali sebagai Valentine’s Day atau Hari Memperingati Kekasih dianggap sebagai satu masa untuk mengisytiharkan ketulusan cinta kepada pasangan masing-masing.

Maka pada 14 Februari, pasangan-pasangan kekasih ini akan memakai pakaian yang terbaik dan sebaiknya hendaklah ia berwarna merah, bertukar-tukar hadiah dan seeloknya adalah bunga ros berwarna merah.
Pasangan-pasangan ini juga akan bercanda di merata-rata tempat sehingga terjadilah adegan-adegan maksiat yang bertentangan dengan syarak demi untuk membuktikan kasih dan sayang mereka yang tidak ternilai harganya.

Saban tahun juga para ulama mengingatkan kepada umat Islam agar menghindari menyambut Hari Valentine ini namun ia seperti menuang air ke daun keladi. Hari Valentine tidak ada kena-mengena dengan umat Islam malah hukum menyambutnya adalah haram. Ia adalah sambutan yang berkaitan dengan agama Rom kuno dan juga Kristian.

Sejarah Sambutan Hari Valentine

Bila kita membicarakan tentang sejarah sambutan hari Valentine, maka kita akan dapati bahawa terdapat empat pendapat berkaitan dengannya.

Pendapat pertama mengaitkannya dengan pesta sambutan kaum Rom kuno sebelum kedatangan agama Kristian yang dinamakan Lupercalia. Lupercalia merupakan upacara penyucian diri yang berlangsung dari 13 hingga 18 Februari. Dua hari pertama mereka menyembah dewi cinta bagi kaum Rom kuno yang bernama Juno Februata.

Pada hari ini para pemuda Rom memilih nama-nama gadis-gadis yang menjadi pilihan mereka lalu dimasukkan ke dalam sebuah kotak. Setiap pemuda tersebut kemudiannya akan mencabut nama tersebut dari dalam kotak itu secara rawak. Nama gadis yang tertera di dalam kertas tersebut akan menjadi pasangan yang akan menjadi objek hiburan seksnya selama setahun.

Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Pada hari ini mereka akan menyembelih seekor anjing dan kambing. Kemudian mereka akan memilih dua pemuda Rom yang dianggap paling gagah untuk menyapukan darah binatang tersebut ke badan mereka lalu mencucinya pula dengan susu.

Setelah itu akan di adakan perarakan besar-besaran yang diketuai dua pemuda tersebut dan mereka berdua akan memukul orang ramai yang berada di laluan mereka dengan kulit binatang dan para wanita akan berebut-rebut untuk menerima pukulan tersebut kerana mereka beranggapan ia akan menambahkan kesuburan mereka.

Pendapat kedua mengaitkannya dengan kematian paderi St. Valentine ketika pemerintahan Raja Rom yang bernama Claudius II. Terdapat dua versi cerita berkaitan dengan St. Valentine ini.Versi pertama.

Pada masa pemerintahan Claudius II, kerajaan Rom yang menyembah dewa-dewi amat memusuhi penganut agama Kristian dan para mubaligh Kristian telah dipenjara serta disiksa. St. Valentine sebagai seorang yang tegar menganut agama Kristian dan aktif menyebarkan ajaran tersebut turut dipenjarakan oleh Cladius II.
Dikhabarkan St. Valentine walaupun dipenjarakan, beliau tetap mengajar dan menyebarkan agama tersebut di kalangan banduan-banduan penjara di samping membantu tawanan-tawanan penjara meloloskan diri dari penjara.

Kegiatan ini telah diketahui oleh Cladius II dan beliau memerintahkan St. Valentine diseksa dan akhirnya dihukum bunuh pada 14 Februari.Pengorbanan yang dilakukan oleh St Valentine ini dianggap oleh penganut Kristian sebagai satu pengorbanan yang besar demi kecintaan beliau terhadap agamanya.

Malah St. Valentine disamakan dengan Jesus yang dianggap oleh penganut Kristian mati kerana menebus dosa yang dilakukan oleh kaumnya.Dikatakan juga bahawa ketika di dalam penjara, beliau telah jatuh cinta dengan anak salah seorang pegawai penjara dan di akhir hayatnya sebelum dibunuh, beliau sempat menulis sepucuk surat cinta kepada gadis tersebut yang bertandatangan From your Valentine (Daripada Valentinemu).

Maka orang-orang Kristian mengambil sempena 14 Februari itu untuk meraikan hari kasih sayang demimemperingati hari kematian paderi mereka St. Valentine.

Versi kedua. Claudius II beranggapan bahawa anggota tentera yang muda dan masih bujang adalah lebih tabah dan kuat ketika berada di medan peperangan berbanding dengan mereka yang telah berkahwin.
Justeru itu Cladius II menghalang para pemuda dari berkahwin.Namun demikian St.Valentine menentangnya dengan keras dan beliau telah melakukan upacara pernikahan terhadap para pemuda-pemuda Rom secara sulit.

Aktiviti St. Valentine ini akhirnya dapat diketahui oleh Cladius II lalu beliau mengarahkan St. Valentine ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M.- Pendapat ketiga. Ia dirayakan sempena kejatuhan kerajaan Islam Andalusia di Sepanyol.

St. Valentine merupakan individu yang memainkan peranan penting dalam usaha menjatuhkan kerajaan Islam pada masa itu. Disebabkan sumbangan beliau itu, St. Valentine dianggap sebagai kekasih rakyat.

Tanggal 14 Februari 1492 merupakan tarikh kejatuhan Islam di Sepanyol dan dianggap pada hari itu hari kasih sayang kerana mereka menganggap Islam adalah agama yang zalim.- Pendapat keempat. Sambutan hari Valentine ini bersempena dengan sifat burung yang musim mengawan burung yang jatuh pada 14hb Februari.

Ini merupakan pendapat tradisi orang Inggeris.Di sini kita dapat melihat dengan jelas bahawa asal-usul sambutan Hari Valentine ini tidak ada hubung-kaitnya dengan budaya serta agama bagi umat Islam.
Hukum sambut ValentineSebagaimana yang termaktub di dalam al-Quran dan al-Sunnah serta disepakati oleh generasi awal umat Islam hari kebesaran bagi umat Islam yang mana disyariatkan bagi kita menyambutnya hanyalah Hari Raya Aidilfitri dan Aidiladha.

Ini sebagaimana yang firman Allah SWT:
Bagi tiap-tiap umat, Kami adakan satu syariat yang tertentu untuk mereka ikuti dan jalankan, maka janganlah ahli-ahli syariat yang lain membantahmu dalam urusan syariatmu; dan serulah (wahai Muhammad) umat manusia kepada agama Tuhanmu, kerana sesungguhnya engkau adalah berada di atas jalan yang lurus. (al-Hajj: 67)

Anas bin Malik r.a berkata:
Nabi SAW pernah datang ke Madinah sedangkan penduduknya memiliki dua hari raya. Pada kedua-duanya mereka bermain-main (bergembira) di masa jahiliah. Lalu baginda bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan kedua-duanya bagi kamu semua dengan dua hari yang lebih baik, iaitu hari raya Aidiladha dan Aidilfitri”. (riwayat al-Nasaai, no: 959).

Oleh itu hendaklah umat Islam membataskan diri dengan menyambut hari-hari perayaan yang diiktiraf oleh Allah dan Rasul-Nya khusus untuk umat Islam.

Setelah berakhir zaman salafussoleh iaitu tiga kurun terbaik bagi umat Islam, pelbagai hari perayaan telah ditambah ke dalam kalendar umat Islam seperti Maulid al-Rasul, Israk Mikraj, Maal Hijrah, Nuzul al-Quran dan lain-lain.

Namun demikian apa yang mendukacitakan adalah umat Islam pada zaman kini telah mula merayakan hari-hari perayaan yang langsung tidak berkaitan dengan umat Islam. Malah ia berasal dari budaya serta agama golongan yang ingkar kepada perintah Allah S.W.T. seperti sambutan Tahun Baru Masihi, Hari Halloween dan juga Hari Valentine yang sedang kita perbincangkan ini.

Terdapat larangan daripada baginda s.a.w. untuk meniru budaya orang bukan Islam dan bagi mereka yang meniru budaya seperti ini ditakuti mereka akan tergolong bersama dalam golongan tersebut.

Sabda baginda: ”Barang siapa menyerupai satu kaum, maka dia termasuk golongan mereka”. (riwayat Imam Abu Dawud, hadis no: 3512).

Tentang hukum menyambut Hari Valentine, Sheikh al-‘Utsaimin berkata: “Maka bila dalam merayakan Hari Valentine tersebut bermaksud untuk mengenangkan kembali St. Valentine, maka tidak diragukan bahawa orang itu telah kafir. Dan jika tidak bermaksud begitu namun sekadar ikut-ikutan kepada orang lain, maka orang itu telah melaksanakan dosa besar”.

Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Agama Islam Malaysia kali ke-71 yang bersidang pada 22 hingga 24 November 2005 memutuskan: “Bahawa amalan merayakan Valentine’s Day tidak pernah dianjurkan oleh Islam”.

Harus kita ingat bahawa golongan yang memusuhi Islam, akan sentiasa berusaha menanamkan benih-benih kesesatan dalam jiwa umat Islam supaya mereka jauh dari jalan yang lurus lagi diredai Allah SWT.
Firman-Nya: Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak sekali-kali akan bersetuju atau suka kepadamu (wahai Muhammad) sehingga engkau menurut agama mereka (yang telah terpesong itu). Katakanlah (kepada mereka): “Sesungguhnya petunjuk Allah (agama Islam itulah petunjuk yang benar). (al-Baqarah: 120)

Oleh: Mohd. Yaakub Mohd. Yunus
Sumber: http://www.utusan.com.my/

Khamis, 12 Februari 2009

Miftahul Jannah- Sabar yang Paling Mengagungkan


Sabar Yang Paling Mengagumkan

http://www.syaukahkarimah.blogspot.com/

Prof. Dr. Khalid al-Jubair penasehat spesialis bedah jantung dan urat nadi di rumah sakit al-Malik Khalid di Riyadh mengisahkan sebuah seminar dengan tajuk Asbab Mansiah (Sebab-Sebab yang Terlupakan). Mari sejenak kita perhatikan bersama kisah tersebut.

Dokter tersebut berkata:
Pada suatu hari, (hari Selasa) aku melakukan operasi pada seorang anak berusia 2,5 tahun. Pada hari Rabu, anak tersebut berada di ruang ICU dalam keadaan segar dan sehat.

Pada hari Kamis pukul 11.15 -aku tidak melupakan waktu itu karena pentingnya kejadian tersebut- tiba tiba salah seorang perawat mengabariku bahwa jantung dan pernafasan anak tersebut berhenti bekerja. Maka akupun pergi dengan cepat kepada anak tersebut, kemudian aku lakukan proses kejut jantung yang berlangsung selama 45 menit.


Selama itu jantungnya tidak berfungsi, namun setelah itu Allah ‘Azza wa Jalla menentukan agar jantungnya kembali berfungsi. Kamipun memuji Allah ‘Azza wa Jalla.Kemudian aku pergi untuk mengabarkan keadaannya kepada keluarganya, sebagaimana anda ketahui betapa sulitnya untuk mengabarkan keadaan pasien kepada keluarganya jika ternyata keadaannya memburuk.

Ini adalah hal tersulit yang harus dihadapi oleh seorang dokter. Akan tetapi ini adalah sebuah keharusan. Akupun bertanya tentang ayah si anak, tetapi aku tidak mendapatinya.

Aku hanya mendapati ibunya, lalu aku katakan kepadanya: “Penyebab berhentinya jantung putramu dari fungsinya adalah akibat pendarahan yang ada pada pangkal tenggorokan dan kami tidak mengetahui penyebabnya. Aku kira otaknya telah mati.” Coba tebak, kira-kira apa jawaban ibu tersebut?Apakah dia berteriak? Apakah dia histeris? Apakah dia berkata: “Engkaulah penyebabnya!”

Dia tidak berbicara apapun dari semua itu bahkan dia berkata: “Alhamdulillah” Kemudian dia meninggalkanku dan pergi.Sepuluh hari berlalu, mulailah sang anak bergerak gerak. Kamipun memuji Allah ‘Azza wa Jalla serta menyampaikan kabar gembira sebuah kebaikan yaitu bahwa keadaan otaknya telah berfungsi.

Pada hari ke-12, jantungnya kembali berhenti bekerja disebabkan oleh pendarahan tersebut. Kamipun melakukan proses kejut jantung selama 45 menit, dan jantungnya tidak bergerak. Maka akupun mengatakan kepada ibunya: “Kali ini menurutku tidak ada harapan lagi.” Maka dia berkata: “Alhamdulillah, ya Allah jika dalam kesembuhannya ada kebaikan, maka sembuhkanlah dia wahai Rabbi.”

Maka dengan memuji Allah, jantungnya kembali berfungsi, akan tetapi setelah itu jantung kembali berhenti sampai 6 kali hingga dengan ketentuan Allah spesialis THT berhasil menghentikan pendarahan tersebut, dan jantungnya kembali berfungsi.

Berlalulah sekarang 3,5 bulan, dan anak tersebut dalam keadaan koma, tidak bergerak. Kemudian setiap kali dia mulai bergerak dia terkena semacam pembengkakan bernanah aneh yang besar di kepalanya, yang aku belum pernah melihat semisalnya. Maka kami katakan kepada sang ibu bahwa putra anda akan meninggal. Jika dia bisa selamat dari kegagalan jantung yang berulang-ulang, maka dia tidak akan bisa selamat dengan adanya semacam pembengkakan di kepalanya.

Maka sang ibu berkata: “Alhamdulillah.” Kemudian meninggalkanku dan pergi. Setelah itu, kami melakukan usaha untuk merubah keadaan segera dengan melakukan operasi otak dan urat syaraf serta berusaha untuk menyembuhkan sang anak. Tiga minggu kemudian, dengan karunia Allah ‘Azza wa Jalla dia tersembuhkan dari pembengkakan tersebut, akan tetapi dia belum bergerak
Dua minggu kemudian, darahnya terkena racun aneh yang menjadikan suhunya 41,20C.

Maka kukatakan kepada ibunya: “Sesungguhnya otak putra ibu berada dalam bahaya besar, saya kira tidak ada harapan sembuh.” Maka dia berkata dengan penuh kesabaran dan keyakinan: “Alhamdulillah, ya Allah, jika pada kesembuhannya terdapat kebaikan, maka sembuhkanlah dia.”

Setelah aku kabarkan kepada ibu anak tersebut tentang keadaan putranya yang terbaring di atas ranjang nomor 5, aku pergi ke pasien lain yang terbaring di ranjang nomor 6 untuk menganalisanya. Tiba tiba ibu pasien nomor 6 tersebut menangis histeris seraya berkata: “Wahai dokter, kemari, wahai dokter suhu badannya 37,60C, dia akan mati..., dia akan mati...”. Maka kukatakan kepadanya dengan penuh heran: “Lihatlah ibu anak yang terbaring di ranjang no 5, suhu badannya 410C sementara dia bersabar dan memuji Allah.” Maka berkatalah ibu pasien no.6 tentang ibu tersebut: “Wanita itu tidak waras dan tidak sadar.”

Maka aku mengingat sebuah hadits Rasulullah Sholallahu ‘alihi wasallam yang indah lagi agung: ”Beruntunglah orang-orang yang asing.” Sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata, akan tetapi keduanya menggoncangkan ummat. Selama 23 tahun bekerja di rumah sakit aku belum pernah melihat dalam hidupku orang sabar seperti ibu ini kecuali dua orang saja.

Selang beberapa waktu setelah itu ia mengalami gagal ginjal, maka kami katakan kepada sang ibu: “Tidak ada harapan kali ini, dia tidak akan selamat.” Maka dia menjawab dengan sabar dan bertawakkal kepada Allah:
“Alhamdulillah.” Seraya meninggalkanku seperti biasa dan pergi.

Sekarang kami memasuki minggu terakhir dari bulan keempat, dan anak tersebut telah tersembuhkan dari keracunan. Kemudian saat memasuki pada bulan kelima, dia terserang penyakit aneh yang aku belum pernah melihatnya selama hidupku, radang ganas pada selaput pembungkus jantung di sekitar dada yang mencakup tulang-tulang dada dan seluruh daerah di sekitarnya. Di mana keadaan ini memaksaku untuk membuka dadanya dan terpaksa menjadikan jantungnya dalam keadaan terbuka. Sekiranya kami mengganti alat bantu, anda akan melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda.

Saat kondisi anak tersebut sampai pada tingkatan ini aku berkata kepada sang ibu: “Sudah, yang ini tidak mungkin disembuhkan lagi, aku tidak berharap. Keadaannya semakin gawat.” Diapun berkata: “Alhamdulillah.” Sebagaimana kebiasaannya, tanpa berkata apapun selainnya. Kemudian berlalulah 6,5 bulan, anak tersebut keluar dari ruang operasi dalam keadaan tidak berbicara, melihat, mendengar, bergerak dan tertawa. Sementara dadanya dalam keadaan terbuka yang memungkinkan bagi anda untuk melihat jantungnya berdenyut dihadapan anda, dan ibunyalah yang membantu mengganti alat-alat bantu di jantung putranya dengan penuh sabar dan berharap pahala.

Apakah anda tahu apa yang terjadi setelah itu?

Sebelum kukabarkan kepada anda, apakah yang anda kira dari keselamatan anak tersebut yang telah melalui segala macam ujian berat, hal gawat, rasa sakit dan beberapa penyakit yang aneh dan kompeks? Menurut anda kira-kira apa yang akan dilakukan oleh sang ibu yang sabar terhadap sang putra di hadapannya yang berada di ambang kubur itu?

Kondisi yang dia tidak punya apa-apa kecuali hanya berdo’a dan merendahkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Tahukah anda apa yang terjadi terhadap anak yang mungkin bagi anda untuk melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda 2,5 bulan kemudian?Anak tersebut telah sembuh sempurna dengan rahmat Allah ‘Azza wa Jalla sebagai balasan bagi sang ibu yang shalihah tersebut. Sekarang anak tersebut telah berlari dan dapat menyusul ibunya dengan kedua kakinya, seakan-akan tidak ada sesuatupun yang pernah menimpanya. Dia telah kembali seperti sedia kala, dalam keadaan sembuh dan sehat.

Kisah ini tidaklah berhenti sampai di sini, apa yang membuatku menangis bukanlah ini, yang membuatku menangis adalah apa yang terjadi kemudian:
Satu setengah tahun setelah anak tersebut keluar dari rumah sakit, salah seorang kawan di bagian operasi mengabarkan kepadaku bahwa ada seorang laki-laki beserta istri bersama dua orang anak ingin melihat anda. Maka kukatakan kepadanya: “Siapakah mereka?” Dia menjawab, “Tidak mengenal mereka.”

Akupun pergi untuk melihat mereka, ternyata mereka adalah ayah dan ibu dari anak yang dulu kami operasi. Umurnya sekarang 5 tahun seperti bunga dalam keadaan sehat, seakan-akan tidak pernah terkena apapun, dan juga bersama mereka seorang bayi berumur 4 bulan.

Aku menyambut mereka, dan bertanya kepada sang ayah dengan canda tentang bayi baru yang digendong oleh ibunya, apakah dia anak yang ke-13 atau 14? Diapun melihat kepadaku dengan senyuman aneh, kemudian dia berkata: “Ini adalah anak kedua, sedang anak pertama adalah anak yang dulu anda operasi, dia adalah anak pertama yang datang kepada kami setelah 17 tahun mandul. Setelah kami diberi rizki dengannya, dia tertimpa penyakit seperti yang telah anda ketahui sendiri.”

Aku tidak mampu menguasai jiwaku, kedua mataku penuh dengan air mata. Tanpa sadar aku menyeret laki-laki tersebut dengan tangannya kemudian aku masukkan ke dalam ruanganku dan bertanya tentang istrinya. Kukatakan kepadanya: “Siapakah istrimu yang mampu bersabar dengan penuh kesabaran atas putranya yang baru datang setelah 17 tahun mandul? Haruslah hatinya bukan hati yang gersang, bahkan hati yang subur dengan keimanan terhadap Allah ‘Azza wa Jalla.

Tahukah anda apa yang dia katakan?

Diamlah bersamaku wahai saudara-saudariku, terutama kepada anda wahai saudari-saudari yang mulia, cukuplah anda bisa berbangga pada zaman ini ada seorang wanita muslimah yang seperti dia.

Sang suami berkata: “Aku menikahi wanita tersebut 19 tahun yang lalu, sejak masa itu dia tidak pernah meninggalkan shalat malam kecuali dengan udzur syar’i. Aku tidak pernah menyaksikannya berghibah (menggunjing), namimah (adu domba), tidak juga dusta. Jika aku keluar dari rumah atau aku pulang ke rumah, dia membukakan pintu untukku, mendo’akanku, menyambutku, serta melakukan tugas-tugasnya dengan segenap kecintaan, tanggung jawab, akhlak dan kasih sayang.”

Sang suami menyempurnakan ceritanya dengan berkata: “Wahai dokter, dengan segenap akhlak dan kasih sayang yang dia berikan kepadaku, aku tidak mampu untuk membuka satu mataku terhadapnya karena malu.”
Maka kukatakan kepadanya: “wanita seperti dia berhak mendapatkan perlakuan darimu seperti itu.”

Saudara-saudariku, ketahuilah bahwa beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan segenap keimanan dan tawakkal kepada-Nya dengan sepenuhnya, serta beramal shalih adalah perkara yang mengokohkan seorang muslim saat dalam kesusahan, dan ujian. Kesabaran yang demikian adalah taufik dan rahmat dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman yang artinya:

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.”Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Allah ‘Azza wa Jalla, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157).

Sumber: Qiblati edisi 01 tahun III

http://shofamarwa.multiply.com/

Ahad, 1 Februari 2009

Wahabi Yang Terhangat




Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang.

www.syaukahkarimah.blogspot.com

Wahabi. Isu terhangat yang sebenarnya sudah lama menjalari fikiran masyarakat tetapi mungkin kali ini saya pula terkena tempiasnya. Terkadang geli hati sendiri dan tertawa apabila sahabat-sahabat mungkin sudah mula menjauhkan diri atau sudah ada berprasangka bahawa saya ini juga wahabi.

Pertama sekali saya dengar perkataan wahabi adalah beberapa tahun lepas tetapi saya tidak pernah ambil pusing. Tidak tahu apa yang diperbualkan. Sebab bagi saya itu bukan urusan saya .

Pertama kali saya mendapat info tentang wahabi adalah dari seorang sahabat saya dari Universiti Sains Malaysia. Secara tiba-tiba dia ingin menegakkan kebenaran bahawa ajaran wahabi itu bukanlah sejenis ajaran tetapi gelaran yang diberi kepada seorang hamba Allah yang bernama Syeikh Abdul Wahab.

Saya yang ketika itu agak terpana,kenapa sahabat saya beria-ia memaklumkan kepada saya tentang itu.

Alhamdulillah, sepanjang pencarian saya untuk memahami apa itu agama dan ajaran Islam yang sebenar mengikut syariat tidak pernah seorang pun yang bersama saya dalam perjuangan itu mengaku diri mereka wahabi.

Sehinggalah sekarang ada orang menggelarkan saya wahabi. Ketawa saya.

Malah ibu saya pun seperti kerisauan sekiranya saya terjebak dengan ajaran wahabi.Dia menceritakan kepada saya bagaimana rakannya yang merupakan seorang guru telah dipindahkan tempat kerja kerana ajaran wahabinya itu.

Saya hanya mampu berkata kepada ibu saya,saya sendiri tidak tahu apa sebenarnya wahabi itu.

Namun hari ini,saya dapat melihat impak wahabi ini.

Berpunca dari sikap manusia yang suka mendengar fitnah dari orang lain tanpa menyiasat.

Saya adalah pelajar senior. Bersama rakan-rakan yang selalu ke surau,berusaha mencari seorang ustaz untuk mengajar ilmu agama di kolej kami.Sebab universiti saya tiada kos agama. Jika ada musykillah agama,maka terkial-kial lah kami mencari sumber untuk bertanya.

Dan masalah solat jamak dan qasar pun menjadi kekecohan sehingga ke peringkat atasan sedangkan tidak ada sesuatu yang salah pun tentang itu. Semuanya kerana jahil.

Tiada ilmu.

Jika masyarakat dulu,jahil itu bermaksud bodoh. Maka layakkah kita pelajar universiti mendapat gelaran itu? Sedangkan universiti dikenali sebagai tempat budak pandai.

Bukan sekali dua pelajar-pelajar mengadu kepada pihak universiti kononnya ada pelajar membawa ajaran sesat. Sehingga sekarang tiada kelas agama yang berlangsung,kerana masalah takut membawa ustaz yang sesat. Dan ustaz wahabi juga dilabel sesat.

Pelik. Sangat pelik.

Kelas agama belum bermula.Pengisian pun belum diberi bagaimana pelajar universiti yang bijak pandai boleh menghukum seseorang tu sesat?

Dan muhasabah diri kalian dahulu. Adakah kalian tidak sesat?

Bercampur gaul lelaki perempuan dalam majlis keraian, berpakaian tidak menutup aurat, menghabiskan masa menonton televisyen, movie barat,movie korea yang penuh kelucahan, solat tidak cukup 5 waktu. Bukankah itu lebih sesat?

Bukankah itu gaya hidup yang secara terang-terang terkeluar dari ajaran agama Islam? Tidak perlu kalut-kalut melihat isu besar jika isu sekecil ini pun kita gagal mengurusinya.

Dan hanya kerana cakap-cakap mulut-mulut yang gemar menaburkan fitnah,harapan saya dan sahabat untuk belajar agama dan mengikuti kelas agama terkubur begitu sahaja.Syariat-syariat Islam yang perlu dipelajari terabai. Hanyutlah pelajar-pelajar universiti dengan urusan yang penuh kesia-siaan dan kedosaan.

Kita orang islam tetapi mengapa kita secara mudahnya menolak usaha-usaha mereka yang ingin menceritakan tentang keluhuran dan kebenaran Islam. Menceritakan kepada kita apa sebenarnya tanggungjawab kita sebagai orang islam,muhasabah dimana sebenarnya kedudukan akidah kita.

Islam itu tidak terletak pada nama semata-mata.

Dan bagi mereka yang gemar berprasangka tanpa usul periksa, tolong bertindak sebagai seorang yang berakal. Bukankah etika kemanusiaan,jika ingin menuduh perlu disertakan bukti yang sahih dan saksi? Malah inikan tuntutan agama dalam mensabit kesalahan pada seseorang.

Mengapa tidak kalian sendiri membuka helaian Al-Quran,cuba mempelajari maksudnya, dan mengerahkan sedikit masa kalian untuk mengenal kitab-kitab hadith dan membaca buku-buku agama?

Atau sudah terlalu tahukah kita tentang agama itu?

Ambil masa,kenal agama dan buktikanlah bahawa dalil Al-Quran yang cuba disampaikan kepada kalian itu adalah ajaran sesat. Jika berani,buktikanlah juga bahawa hadith-hadith Rasulullah s.a.w itu juga sesat dan tidak relevan.

Kerana tindakan kita menyekat kemasukan ustaz kerana sebab yang tidak muhasabah tiada bezanya dengan orang yang tidak mempercayai Islam dan mengambil tahu tentang
syariatnya.

Dan moga firman Allah s.w.t ini sentiasa menjadi pegangan kita.

Bukalah tafsir dihelaian 432,surah Al Ahzab ayat 36. Baca dan cermatilah.

‘’Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin,apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan,akan ada pilihan(yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa menderhakai Allah dan Rasul-Nya,maka sungguh dia telah tersesat,dengan kesesatan yang nyata.’’

“ Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran”( Surah Sl’Asr:1-3)

Khamis, 15 Januari 2009

Adakah Menyentuh Wanita Membatalkan Wuduk?



Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

www.syaukahkarimah.blogspot.com

Ulamak berbeza pendapat tentang adakah menyentuh wanita membatalkan wuduk. Menurut Syaikh Kamal bin As-Sayyid Salim: “Dalam masalah ini ada tiga pendapat di kalangan para ulamak:

Pertama: Lelaki menyentuh perempuan secara mutlak membatalkan wuduk. Ini adalah pendapat Syafi’i yang disepakati oleh Ibnu Hazm dan merupakan perkataan Ibnu Mas’ud serta Ibnu ‘Umar.

Kedua: Tidak membatalkan wuduk secara mutlak menurut mazhab Abu Hanifah, Muhammad bin Hassan al-Syaibani dan merupakan perkataan Ibnu ‘Abbas, Thawus, al-Hassan, Atha’ dan dipilih oleh Ibnu Taymiyyah. Inilah pendapat yang kuat.

Ketiga: Menyentuh perempuan dapat membatalkan wuduk jika disertai syahwat. Ini adalah pendapat Malik dan Ahmad pada riwayat yang masyhur darinya.

Apapun jua rata-rata umat Islam di Malaysia berpegang kepada pendapat yang pertama iaitu pendapat yang dipegang oleh Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i rahimahullah. Imam al-Syafi’i berkata:
“Apabila seseorang lelaki menyentuhkan tangan isterinya, atau bersentuhan sebahagian tubuhnya kepada sebahagian tubuh isterinya di mana tidak ada pembatas antara dia dan isterinya, baik dengan nafsu berahi atau tidak, maka wajib atas keduanya berwuduk”.

Dalil yang telah dipergunakan oleh Imam al-Syafi’ rahimahullah adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

“ Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan solat (padahal kamu berhadas kecil), maka (berwuduklah) iaitu basuhlah muka kamu, dan kedua belah tangan kamu meliputi siku, dan sapulah sebahagian dari kepala kamu, dan basuhlah kedua belah kaki kamu meliputi buku lali.

Dan jika kamu junub (berhadas besar) maka bersucilah dengan mandi wajib; dan jika kamu sakit (tidak boleh kena air), atau dalam perjalanan, atau salah seorang dari kamu datang dari tempat buang air, atau kamu sentuh perempuan, sedang kamu tidak mendapat air (untuk berwuduk dan mandi), maka hendaklah kamu bertayamum dengan tanah - debu yang bersih, iaitu: sapulah muka kamu dan kedua belah tangan kamu dengan tanah - debu itu...”

Firman-Nya lagi dalam ayat yang lain:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu hampiri solat (mengerjakannya) sedang kamu dalam keadaan mabuk, hingga kamu sedar dan mengetahui akan apa yang kamu katakan. Dan janganlah pula (hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan Junub (berhadas besar) - kecuali kamu hendak melintas sahaja - hingga kamu mandi bersuci.

Dan jika kamu sakit, atau sedang dalam musafir, atau salah seorang di antara kamu datang dari tempat buang air, atau kamu bersentuh dengan perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air (untuk mandi atau berwuduk), maka hendaklah kamu bertayamum dengan tanah - debu, yang suci, iaitu sapukanlah ke muka kamu dan kedua tangan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, lagi Maha Pengampun.

Bagi Imam al-Syafi’i rahimahullah ayat “atau kamu sentuh wanita” menjadi bukti bahawa tersentuh kulit di antara lelaki dan wanita itu membatalkan wuduk. Sebelum kita meneruskan perbincangan ini ada baiknya sekiranya kita memahami bagaimanakah manhaj atau pegangan Imam al-Syafi’i yang juga di kenali dengan gelaran al-Nashir al-Sunnah (Seorang Pembela Sunnah) dan hal-hal yang bersangkutan ibadah. Imam al-Syafi’i berkata:

“Bila suatu masalah ada hadisnya yang sah daripada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menurut kalangan Ahlul Hadis, tetapi pendapatku menyalahinya, pasti aku akan mencabutnya, baik selama aku hidup mahupun setelah aku mati”.

Selanjutnya Imam al-Syafi’i rahimahullah juga berkata:

“Setiap hadis yang datang daripada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bererti itulah pendapatku, sekalipun kalian tidak mendengarnya sendiri dari aku”.

Masih terdapat banyak lagi kata-kata Imam al-Syafi’i rahimahullah yang senada dengan apa yang telah penulis turunkan di atas. Oleh itu melalui risalah ringkas ini penulis akan sedaya upaya mengupas isu ini dengan merujuk kepada dalil-dalil yang sabit daripada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Takrifan Sebenar Bersentuh Dengan Perempuan.

Bersentuh di dalam kedua ayat al-Qur’an di atas sebenarnya bukan merujuk kepada bersentuh antara kulit tetapi ianya sebenarnya merujuk kepada jimak (persetubuhan). Terdapat beberapa ayat di dalam al-Qur’an yang juga menggunakan istilah bersentuh tetapi ianya hanya mengarahkan kepada makna jimak.

“Dan jika kamu ceraikan mereka sebelum kamu sentuh (jimak) dengan mereka, padahal kamu sudah menetapkan kadar maskahwin untuk mereka, maka mereka berhak mendapat separuh daripada maskahwin yang telah kamu tetapkan itu, kecuali jika mereka memaafkannya tidak menuntutnya); atau (pihak) yang memegang ikatan nikah itu memaafkannya (memberikan maskahwin itu dengan sepenuhnya). Dan perbuatan kamu bermaaf-maafan (halal menghalalkan) itu lebih hampir kepada taqwa. Dan janganlah pula kamu lupa berbuat baik dan berbudi sesama sendiri. Sesungguhnya Allah sentiasa melihat akan apa jua yang kamu kerjakan.

Firman-Nya lagi:

“Maryam bertanya (dengan cemas): Bagaimanakah aku akan beroleh seorang anak lelaki, padahal aku tidak pernah disentuh (dijimak) oleh seorang lelaki pun, dan aku pula bukan perempuan jahat?"

Jelas kedua-dua ayat di atas merujuk bersentuh sebagai berjimak. Ibnu ‘Abbas radhiallahu 'anh yang merupakan pakar tafsir al-Qur’an di kalangan para sahabat juga mentafsirkan bersentuh di dalam surah al-Nisaa’ dan al-Maaidah yang telah dipergunakan oleh Imam al-Syafi’i sebagai dalil untuk menguatkan hujahnya sebagai jimak. Dr. Yusuf al-Qaradhawi berkata:

“Sedangkan makna menyentuh yang kemudian dijadikan dalil bahawa itu adalah hubungan badan (jimak) di dalam ayat di atas (iaitu di dalam surah al-Nisaa’ dan al-Maaidah), adalah seperti yang ditafsirkan oleh Ibnu ‘Abbas (radhiallahu 'anh).

Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah memiliki penjelasan yang begitu baik tentang surah al-Maaidah ayat ke 6 dan beliau telah membuktikan bahawa firman Allah Subhanahu wa Ta'ala “kamu sentuh perempuan” itu bermaksud jimak. Ayat tersebut dimulakan dengan pembahagian thohaarah asli kepada dua iaitu berwuduk untuk hadas kecil dan mandi wajib untuk hadas besar.

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: “…apabila kamu hendak mengerjakan solat (padahal kamu berhadas kecil), maka (berwuduklah) iaitu basuhlah muka kamu, dan kedua belah tangan kamu meliputi siku, dan sapulah sebahagian dari kepala kamu, dan basuhlah kedua belah kaki kamu meliputi buku lali…” menetapkan tentang diwajibkan berwuduk apabila berhadas kecil untuk bersolat.

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: “…dan jika kamu junub (berhadas besar) maka bersucilah dengan mandi wajib…” menerangkan bahawa apabila kita berhadas besar diwajibkan mandi wajib.

Selanjutnya ayat tersebut menceritakan tentang thohaarah pengganti apabila tidak ada air yakni dengan bertayamum. Jika di awal ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta'ala telah membahagi thohaarah asli untuk hadas besar dan hadas kecil, tentu sekali thohaarah pengganti yakni tayamum juga akan meliputi perbahasan untuk hadas besar dan hadas kecil agar ianya sesuai dengan balaghah (sastera bahasa) al-Qur’an. Antara contoh-contoh yang Allah 'Azza wa Jalla pamerkan untuk thohaarah pengganti adalah:

i. dan jika kamu sakit (tidak boleh kena air),

ii. atau dalam perjalanan,

iii. atau salah seorang dari kamu datang dari tempat buang air,

iv. atau kamu sentuh perempuan, sedang kamu tidak mendapat air (untuk berwuduk dan mandi),

Perkara (i), (ii) dan (iii) adalah hadas kecil manakala perkara (iv) sebenarnya merujuk kepada perbuatan yang melibatkan terjadinya hadas besar yakni berjimak. Oleh itu Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah membuat kesimpulan:

“Yang tepat bahawa ayat ini (al-Maaidah (5) : 6) menunjukkan bahawa firman-Nya: atau kamu sentuh perempuan maksudnya jika kamu menyetubuhi (berjimak) wanita agar ayat ini meliputi dua sebab yang mengharuskan bersuci (thohaarah) iaitu hadas besar dan hadas kecil.

Dan berwuduk meliputi empat anggota badan, sedangkan mandi (wajib) meliputi seluruh badan. Sedangkan thohaarah pengganti iaitu tayamum meliputi dua anggtota tubuh sahaja baik tayamum untuk hadas kecil mahupun besar”.
Oleh itu ayat-ayat tersebut sebenarnya hanya menjelaskan bahawa sekiranya terjadi jimak atau persetubuhan di antara lelaki dan wanita maka hal tersebut membatalkan wuduk.

Petunjuk Dari Sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam

Terdapat beberapa hadis Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang menunjukkan sekadar bersentuhan kulit antara lelaki dan wanita ianya tidak membatalkan wuduk. Daripada ‘Aishah radhiallahu 'anha isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dia berkata:

Aku tidur di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sedang kakiku di arah kiblatnya. Maka apabila baginda hendak bersujud, baginda mencolekku, maka aku lantas melipat kakiku.

Menurut Imam Abu Ja’far al-Thobari hadis di atas menjadi bukti yang kukuh bahawa fiman Allah Subhanahu wa Ta'ala “kamu sentuh perempuan” itu bermaksud jimak (bersetubuh). Menurut beliau:

Pendapat yang paling dekat dengan kebenaran adalah pendapat yang mengatakan bahawa makna firman Allah “kamu sentuh perempuan” itu adalah jimak bukan bermakna bersentuhan. Ini berdasarkan hadis sahih daripada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam behawasanya baginda mencium sebahagian isterinya lalu keluar untuk melaksanakan solat tanpa mengambil wuduk kembali.

Daripada ‘Aishah radhiallahu 'anha dia berkata:

“Pada suatu malam aku kehilangan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka aku mencarinya dengan tanganku, kemudian tanganku mengenai telapak kaki baginda yang sedang tertegak dalam keadaan bersujud.

Maka dari kedua hadis di atas jelaslah bahawa sekadar bersentuhan kulit sahaja tidaklah membatalkan wuduk. Ada sesetengah pihak beranggapan bahawa di dalam kedua-dua peristiwa di atas persentuhan tersebut sebenarnya berlaku di dalam keadaan berlapik namun ini di sanggah oleh Dr. Yusuf al-Qaradhawi. Menurut beliau: “Penafsiran bahawa memegangnya dengan menggunakan pembatas (berlapik) adalah sebuah penafsiran yang jauh terpesong dari zahir hadis”.

Hal ini akan menjadi semakin jelas apabila kita meneliti hadis seterusnya. Daripada ‘Aishah radhiallahu 'anha, dia berkata:

“Bahawa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mencium sebahagian isteri-isterinya lalu pergi solat tanpa berwuduk lagi”.

Daripada ‘Aishah radhiallahu 'anha, dia berkata: “Bahawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menciumnya sedang baginda berpuasa.” Kemudian Nabi bersabda:

“Ciuman ini tidaklah merosakkan (membatalkan) wuduk dan tidak pula membatalkan puasa”.

Menerusi hadis-hadis di atas maka terdapat para ulamak yang menguatkan hujah mereka bahawa menyentuh perempuan samada disertai dengan syahwat mahupun tidak, ianya tidak membatalkan wuduk. Ini adalah kerana kebiasaannya bercium itu disertai dengan syahwat.

Sekiranya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ingin membezakan bahawa ciuman yang bersyahwat itu membatalkan wuduk sementara ciuman yang biasa tidak membatalkan wuduk pasti ada riwayat darinya yang menggambarkan tentang perbezaan tersebut. Namun hadis di atas dibiarkan di dalam bentuk yang umum. Menurut Syaikh Sa’id al-Qahtani:

“Menyentuh perempuan berdasarkan pendapat yang kuat tidak membatalkan wuduk, baik disertai syahwat mahupun tidak, selama tidak disertai keluarnya mani atau madzi kerana Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah suatu ketika mencium sebahagian isterinya, lalu solat tanpa memperbaharui wuduknya”.

Menurut Fahd al-Syuwayyib, penulis kitab al-Ta’lieqaat al-Salafiyah’ ala Sunannya berkata:

“Perkataan ghomazani (mencolek) atau seperti di dalam hadis al-Nasai massani bi rijilih (menyentuhku dengan kakinya), adalah maklum bahawa hal itu bererti menyentuh tanpa syahwat. Maka pengarang menjadikannya sebagai dalil bahawa menyentuh tanpa syahwat itu tidak membatalkan wuduk.

Adapun jika menyentuh dengan syahwat, maka alasan bahawa tidak batal kerananya ialah kembali kepada asal, iaitu tidak ada dalil yang menunjukkan tentang ianya membatalkan, sehinggalah orang yang berpendapat hal itu membatalkan dapat menunjukkan dalilnya. Dan ini cukup menjadi alasan hal itu tidak membatalkan. Bahkan akan tampak dalil yang mengindikasikan tidak membatal wuduk, iaitu hadis mengenai qublah (mencium), yang menurut kebiasaan bahawa mencium itu tidak terbebaskan dari adanya syahwat”.

Selanjutnya Fahd al-Syuwayyib berkata:

“Apabila suami dan isteri merasa aman dari keluarnya suatu cairan, maka menyentuh itu tidak membatalkan wuduknya tetapi yang lebih utama adalah mengambil sikap berhati-hati kerana ada kalanya dia tidak dapat menjamin tidak keluarnya sesuatu cairan di dalam keadaan ini (adanya syahwat). Wallahu A’lam.

Inilah beberapa petunjuk yang dapat kita ambil dari hadis-hadis Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkaitan dengan perbahasan samada menyentuh wanita itu membatalkan wuduk ataupun tidak. Hadis-hadis tersebut jelas menunjukkan ianya tidak batal malah sebenarnya tidak wujud petunjuk daripada baginda bahawa hal tersebut boleh membatalkan wuduk. Menurut Syaikh al-Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah di dalam Majmu’ al-Fatawa, jilid 21, ms. 235-236:

“Adapun wajib wuduk nyata kerana menyentuh wanita dengan tanpa syahwat maka yang demikian adalah pendapat yang paling lemah. Pendapat ini tidak dikenal dari salah seorang sahabat manapun. Tidak pernah diriwayatkan daripada Nabi bahawa dia memerintahkan kaum muslim untuk berwuduk kerana disebabkan hal tersebut.

Padahal ini adalah masalah yang sering terjadi yang hampir-hampir kaum muslim tidak dapat menghindarkan diri darinya. Sebab seorang lelaki selalu mengambil sesuatu daripada isterinya dan mengambilnya dengan tangannya. Dan yang serupa itu yang terjadi kepada kebanyakan manusia. Maka andaikata wuduk diwajibkan disebabkan kerana itu (iaitu bersentuhan lelaki dan wanita - pen) pastilah Rasulullah memerintahkan sekali ataupun dua kali dan akan tersebar luas di tengah para sahabat. Andaikata Rasulullah melakukan itu maka pasti akan ada hadis yang ditulis mengenai hal ini walaupun hadis ahad . Maka ketika tidak ada satu hadis pun yang memerintahkan masalah ini dari salah seorang dari kaum muslimin bahawa Rasulullah memerintahkan seorang dari kaum muslimin –padahal ini sering kali terjadi- boleh kita fahami bahawa hal itu tidak wajib.

Kesimpulan

Setelah membentang serta membahaskan semua pandangan yang ada di dalam mazhab-mazhab fekah berkaitan isu samada menyentuh wanita membatalkan wuduk ataupun tidak, Dr Yusuf al-Qaradhawi membuat kesimpulan seperti berikut :

“ Kami menyatakan bahawa pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah tidak batalnya wuduk secara mutlak. Sebab yang menjadi sandaran orang-orang mengkritik pandangan ini adalah ayat yang mulia ini.
Padahal tidak ada dilalah (indikasi) yang menunjukkan hal itu (yakni menyentuh wanita membatalkan wuduk – pen) di dalam ayat tersebut.

Pandangan ini sama dengan apa yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas (radhiallahu 'anh), Sang Tarjuman al-Qur’an (pakar tafsir al-Qur’an) dan orang yang Rasulullah doakan semoga Allah mengajarkan takwil (tafsiran). Pandangan ini sangat sesuai dengan penutup ayat ini:

“Allah tidak mahu menjadikan kamu menanggung sesuatu kesusahan (kepayahan), tetapi Dia berkehendak membersihkan (mensucikan) kamu dan hendak menyempurnakan nikmatNya kepada kamu, supaya kamu bersyukur.

Syaikh Shalih Fauzan pula berkata:

“ Akan tetapi pendapat yang kuat adalah tidak membatalkan (wuduk apabila menyentuh wanita) secara mutlak, kecuali bila keluar sesuatu cairan dari orang yang menyentuh dan disentuh, seperti madzi dan sebagainya. Di dalam keadaan seperti ini, wuduk orang yang bersangkutan batal disebabkan sesuatu yang keluar darinya dan bukan kerana memegang.

Penulis (Mohd Yaakub Mohd Yunus) berpendapat sewajarnya kita menangani isu ini dengan minda yang bersih dari sifat fanatik mazhab. Apatah lagi Imam al-Syafi’i rahimahullah sendiri menganjurkan kita untuk lebih mengutamakan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dari pendapat beliau sendiri dan sekiranya terdapat sunnah Nabi yang bertentangan dengan pandangan beliau maka tolaklah pendapat beliau.Firman Allah 'Azza wa Jalla:

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasulullah dan kepada "Ulil-Amri" (orang-orang yang berkuasa) dari kalangan kamu. Kemudian jika kamu berbantah-bantah (berselisihan) dalam sesuatu perkara, maka hendaklah kamu mengembalikannya kepada (Kitab) Allah (Al-Quran) dan (Sunnah) Rasul-Nya - jika kamu benar beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. Yang demikian adalah lebih baik (bagi kamu) dan lebih elok pula kesudahannya”.

Melalui ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta'ala mewajibkan bagi kita sekiranya terjadi sesuatu perselisihan pendapat samada dalam perkara yang pokok atau cabang dalam agama, hendaklah dirujuk semula kepada al-Qur’an dan al-Sunnah untuk mendapatkan kepastian tentang pandangan mana yang lebih benar dan tepat.

Keengganan mencerminkan sikap seseorang yang tidak beriman sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan hari akhirat. Tambahan pula antara manhaj Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam membuat pilihan ketika memberi pandangan adalah sebagaimana yang dikhabarkan oleh Umm al-Mukminun ‘Aishah radhiallahu 'anha:

“Tidaklah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jika diberi dua pilihan kecuali baginda memilih yang paling mudah di antaranya selagi tidak mengandungi dosa.

Penulis melihat hukum batalnya wuduk apabila bersentuhan di antara lelaki dan wanita agak memberatkan serta menyukarkan umat Islam terutamanya bagi pasangan suami isteri. Kesukaran ini akan kelihatan lebih jelas lagi apabila kita terpaksa berasak-asak di dalam keadaan jumlah orang yang begitu ramai seperti ketika melaksanakan ibadah haji atau umrah. Untuk meringankan kesukaran ini maka ada pihak yang mengambil pendirian untuk bertaklid kepada mazhab Imam Ahmad hanya ketika melaksanakan ibadah haji dan umrah. Saranan penulis kenapa tidak kembali sahaja kepada sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang sememangnya memudahkan umatnya. Sabda baginda shallallahu 'alaihi wasallam: “Sesungguhnya kalian diutus untuk memberikan kemudahan dan tidak diutus untuk menyulitkan”.

Baginda juga telah memerintahkan kita untuk mempermudahkan segala urusan sebagaimana sabdanya: “Permudahkanlah dan jangan kamu persulitkan”.

Semoga kemudahan yang Allah Subhanahu wa Ta'ala anugerahkan kepada kita semua akan menjadi pilihan kita kerana mustahil apa yang datangnya dari Allah dan Rasul-Nya serta menjadi amalan para sahabat Nabi radhiallahu 'anhum akan mengandungi unsur-unsur dosa. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala hanya menginginkan kemudahan kepada hamba-hamba-Nya dan tidak mahu memberati kita semua. Ini sebagaimana Firman-Nya:

“.. (Dengan ketetapan yang demikian itu) Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan, dan Dia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran…”

Oleh: Mohd Yaakub Mohd Yunus
http://akob73.blogspot.com/
SMS sahaja: 016-2640722

Amalan wanita Yang Didatangi haid di Bulan Ramadhan




Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang

www.syaukahkarimah.blogspot.com

Antara soalan yang lazim dikemukakan oleh para muslimah adalah bagaimana mereka dapat memanfaatkan bulan Ramadhan apabila didatangi haid.

Ini kerana apabila mereka didatangi haid, mereka tidak boleh berpuasa, tidak boleh bersolat – khasnya solat tarawih dan tidak boleh membaca al-Qur’an. Lalu apakah yang boleh mereka amalkan agar hari-hari Ramadhan tidak berlalu begitu sahaja ketika mereka didatangi haid?

Penulis menjawab, kalian boleh membaca al-Qur’an ketika haid. Jawapan ini secara automatis dibalas dengan soalan: “Bukankah wanita yang didatangi haid dilarang daripada memegang dan membaca al-Qur’an?” Soalan ini memerlukan jawapan yang panjang lagi mendalam. Berikut adalah jawapan penulis tentang hukum sebenar bagi wanita memegang dan membaca al-Qur’an ketika didatangi haid, sama ada di bulan Ramadhan atau selain Ramadhan.

Pertama: Hukum wanita yang didatangi haid memegang al-Qur’an.

Umumnya terdapat dua pendapat, yang pertama mengatakan tidak boleh manakala yang kedua berkata boleh. Pendapat yang pertama merujuk kepada firman Allah:

Yang tidak disentuh melainkan oleh makhluk-makhluk yang diakui bersih suci. [al-Waqiah 56:79]

Diikuti dengan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

Tidaklah menyentuh al-Qur’an dan tidak juga mushaf melainkan orang yang suci.

Manakala bagi pendapat kedua, mereka berpegang kepada kaedah bahawa seseorang wanita yang sedang haid boleh melakukan semua perkara seperti biasa melainkan wujud dalil tepat (qathi) yang melarangnya.

Dalam hal ini yang jelas dilarang adalah bersolat, berpuasa, melakukan tawaf dan bersetubuh.

Adapun hukum memegang al-Qur’an, tidak ada dalil tepat yang melarang seseorang yang sedang haid daripada memegangnya.

Ayat al-Qur’an yang dijadikan rujukan oleh pendapat pertama adalah tidak tepat untuk dijadikan hujah kerana perkataan al-Mutatahharun sebenarnya merujuk kepada para malaikat sebagaimana yang boleh dilihat daripada keseluruhan ayat yang berkaitan:

“Bahawa sesungguhnya itu ialah Al-Quran yang mulia, Yang tersimpan dalam Kitab yang cukup terpelihara, Yang tidak disentuh melainkan oleh makhluk-makhluk yang diakui bersih suci; Al-Quran itu diturunkan dari Allah Tuhan sekalian alam”. [al-Waqiah 56:77-80]

Berkata Ibnu Abbas radhiallahu 'anh, ayat “fii Kitabim-maknun” bererti di langit, yakni di al-Lauh al-Mahfuz manakala al-Mutatahharun (makhluk-makhluk yang diakui suci) adalah para malaikat yang suci.

Justeru keseluruhan ayat sebenarnya menerangkan tentang kitab al-Qur’an yang sebelum ini tersimpan dalam al-Lauh al-Mahfuz, di sana ia tidak disentuh oleh sesiapa kecuali para malaikat sehinggalah ia diturunkan ke bumi kepada manusia.

Hadis yang dijadikan dalil melarang adalah juga tidak tepat sandarannya kerana perkataan al-Taharun yang bererti suci adalah satu perkataan yang memiliki banyak erti (lafaz Mushtarak) dan mengikut kaedah Usul Fiqh:

“Sesuatu perkataan yang memiliki banyak erti tidak boleh dibataskan kepada satu maksud tertentu melainkan wujud petunjuk yang dapat mendokongi pembatasan tersebut”.

Perkataan suci dalam hadis di atas boleh bererti suci daripada najis seperti tahi dan air kencing. Boleh juga bererti suci daripada hadas besar seperti haid dan junub, dan suci daripada hadas kecil yakni seseorang yang dalam keadaan wudhu’.

Ia juga boleh bererti suci dari sudut akidah sepertimana firman Allah terhadap orang-orang musyrik:

Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis. [al-Taubah 9:28]

Oleh itu perlu dicari maksud sebenar kepada perkataan suci dalam hadis di atas.

Salah satu caranya ialah dengan mengkaji keseluruhan hadis di mana ia sebenarnya adalah sepucuk surat yang dihantar oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada seorang sahabat di Yaman.

Pada saat itu Yaman adalah sebuah wilayah yang penduduknya masih terdiri daripada campuran orang bukan Islam dan Islam, justeru kemungkinan yang besar adalah surat tersebut bertujuan melarang al-Qur’an daripada disentuh oleh orang bukan Islam.

Himpunan antara asal usul hadis dan rujukan al-Qur’an kepada orang musyrik sebagai najis dapat mengarah kepada satu petunjuk yang tepat bahawa erti suci dalam hadis di atas sebenarnya merujuk kepada orang Islam.

Justeru keseluruhan hadis sebenarnya melarang orang-orang bukan Islam daripada memegang kitab atau mushaf al-Qur’an. Akhirnya jika dianalisa antara dua pendapat di atas, yang lebih tepat adalah pendapat kedua yang membolehkan seorang wanita yang sedang haid untuk memegang al-Qur’an.

Kedua: Hukum wanita yang didatangi haid membaca al-Qur’an.

Dalam persoalan ini terdapat sebuah hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

Tidak boleh membaca sesuatu apa jua daripada al-Qur’an seorang yang dalam keadaan junub atau haid.

Hadis ini memiliki beberapa jalan periwayatan namun setiap darinya adalah dha‘if. Berkata Imam al-Nawawi rahimahullah (676H):

Adapun hadis Ibn Umar: “Tidak boleh membaca sesuatu apa jua daripada al-Qur’an seorang yang dalam keadaan junub atau haid” , maka ia diriwayatkan oleh al-Tirmizi, Ibn Majah, al-Baihaqi dan selainnya.

Ia adalah hadis yang dha‘if, didha‘ifkan oleh al-Bukhari, al-Baihaqi dan selainnya. Kedha‘ifan yang terdapat padanya adalah jelas.

Namun sebahagian ahli fiqh tetap melarang seorang wanita yang sedang haid daripada membaca al-Qur’an kerana diqiyaskan keadaan haid kepada keadaan junub. Namun hal ini dianggap tidak tepat kerana dua sebab:


i. Peranan qiyas ialah mengeluarkan hukum bagi perkara-perkara yang tidak wujud pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Apa-apa perkara baru yang wujud selepas itu, maka hukumnya disandarkan secara analogi kepada sesuatu yang sudah sedia dihukumkan pada zaman Rasulullah berdasarkan kesamaan sebabnya (‘illat).

Adapun haid, maka ia adalah sesuatu yang wujud secara lazim pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Apabila pada zaman itu Allah dan Rasul-Nya tidak menjatuhkan hukum melarang wanita yang haid daripada membaca al-Qur’an, maka tidak perlu bagi orang-orang terkemudian membuat hukum yang baru.

ii. Haid dan junub adalah dua keadaan yang jauh berbeza. Junub adalah satu keadaan di mana seseorang itu memiliki pilihan untuk berada dalamnya atau tidak, dan seseorang itu boleh keluar daripada keadaan junub pada bila-bila masa melalui mandi wajib atau tayamum. Berbeza halnya dengan haid, ia bermula dan berakhir tanpa pilihan.

Sebahagian lain melarang atas dasar memelihara kesucian dan keagungan al-Qur’an. Justeru mereka berpendapat tidak boleh membaca (mentilawahkan) al-Qur’an kecuali beberapa perkataan atas dasar zikir dan memperoleh keberkatan.

Pendapat ini juga dianggap kurang tepat kerana seseorang wanita, sama ada dalam keadaan haid atau tidak, tetap dianggap suci dan dihalalkan bagi mereka semua yang dihalalkan melainkan wujudnya dalil yang sahih yang melarang sesuatu ibadah seperti solat, puasa, tawaf dan bersetubuh.

Adapun pensyari‘atan mandi wajib selepas berakhirnya tempoh haid, ia adalah penyucian atas sesuatu yang sedia suci dan bukannya penyucian atas sesuatu yang sebelum itu bersifat najis. Oleh itu tidaklah berkurang sedikitpun kesucian dan keagungan al-Qur’an apabila ia dibaca oleh seseorang wanita yang sedang dalam keadaan haid.

Pernah sekali Abu Hurairah radhiallahu 'anh mengasingkan diri daripada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau balik ke rumah untuk mandi wajib dan kemudian kembali. Rasulullah bertanya kenapakah dilakukan sedemikian, lalu Abu Hurairah menerangkan bahawa tadi beliau sebenarnya dalam keadaan junub. Mendengar itu Rasulullah bersabda:

Subhanallah! Wahai Abu Hurairah! Sesungguhnya orang mukmin tidaklah ia menjadi najis.

Kata-kata Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di atas bersifat umum, menunjukkan bahawa seorang mukmin tidaklah ia sekali-kali akan berada dalam keadaan najis sekalipun dia dalam keadaan junub. Termasuk dalam keumuman hadis ini ialah wanita yang sedang haid. Sebagai rumusan kepada kupasan ini, berikut dinukil kata-kata Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah (728H):

“Sesungguhnya para wanita mereka mengalami haid pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka seandainya membaca al-Qur’an diharamkan ke atas mereka (ketika haid) sepertimana solat, pasti baginda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam akan menjelaskannya kepada umatnya. Baginda akan mengajarnya kepada para Ummul Mukminun (para isteri baginda) dan akan dinukil daripada mereka oleh orang ramai.

Akan tetapi tidak ada satupun (riwayat) yang melarang yang dinukil daripada Nabi.

Oleh itu hal ini tidak boleh dianggap terlarang padahal telah diketahui bahawa baginda tidak melarangnya. Justeru jika baginda tidak melarangnya padahal ramai wanita yang haid di zamannya, maka sesungguhnya ketahuilah bahawa ia sememangnya tidak haram”.
Kesimpulan:

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

Alif-Lam-Mim. Kitab Al-Quran ini, tidak ada sebarang syak padanya; ia pula menjadi petunjuk bagi orang-orang yang (hendak) bertaqwa. [al-Baqarah 2:1-2]

Setiap individu Muslim yang bertaqwa memerlukan al-Qur’an sebagai kitab yang memberi petunjuk kepada mereka. Petunjuk ini diperlukan pada setiap masa dan tempat, termasuk oleh para wanita ketika mereka didatangi haid. Tidak mungkin untuk dikatakan bahawa ketika haid mereka tidak memerlukan petunjuk dalam kehidupan sehari-harian mereka.

Atas keperluan inilah al-Qur’an dan al-Sunnah yang sahih tidak melarang para wanita yang didatangi haid daripada memegang dan membaca al-Qur’an seperti biasa. Adapun pendapat yang mengatakan ianya haram, ia adalah pendapat yang lemah sekalipun masyhur.

Penulis : Hafiz Firdaus Abdullah

Adakah Cara Solat Kaum Wanita Berbeza dengan kaum Lelaki?



Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

www.syaukahkarimah.blogspot.com

Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:
“ Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari di mana orang yang sabar ketika itu seperti memegang bara api. Mereka yang mengamalkan sunnah pada hari itu akan mendapatkan pahala lima puluh kali dari kalian yang mengamalkan amalan tersebut. Para sahabat bertanya: ‘Mendapatkan lima puluh kali dari kita atau dari mereka?.Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
menjawab: ‘Bahkan lima puluh kali pahala dari kalian”

[Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi Abu Daud, Ibnu Majah,Ibnu Hibban dan al-Hakim. Hadis ini adalah hadis sahih dan telah dishahihkan oleh Imam al-Hakim dan disepakati oleh az-Dzahabi dalam Dharuratul Ihtimam, m.s 49 oleh Syaikh Abdus Salam bin Barjas]

Dari Meja Penyusun ...

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya dan kami memohon pertolongan-Nya dan kami memohon keampunan-Nya, dan kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan dari keburukan perbuatan kami. Sesiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tiadalah kesesatan baginya dan sesiapa yang disesatkan oleh Allah maka tiadalah petunjuk baginya. Kami bersaksi bahawa tiada tuhan kecuali Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya dan kami bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.

Untuk makluman sidang pembaca sekalian, risalah yang sedang berada di tangan anda ini merupakan himpunan beberapa risalah berhubung dengan persoalan fiqh wanita, yang antara lainnya membahas beberapa persoalan fiqh yang sering menjadi bahan polemik di dalam masyarakat kita, khususnya kaum wanita. Antara isu yang akan dibincangkan di dalam risalah ini adalah persoalan adakah tata-cara perlaksanaan solat kaum lelaki berbeza dengan kaum wanita, adakah terbatal wuduk jika menyentuh kaum wanita, amalan-amalan yang dibolehkan kepada kaum wanita di bulan Ramadhan serta hukum bagi wanita haid yang memasuki masjid. Dengan membawa segala hujah-hujah ilmiah yang bersumberkan dari nas-nas al-Qur’an, al-Sunnah yang sahih, atsar para sahabat serta pandangan alim ulamak muktabar yang diakui dan diiktiraf oleh dunia Islam, para penulis risalah telah pun berjaya menampilkan beberapa pandangan yang rajih (terkuat) dan sarih (jelas) bagi menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut. Mudahan-mudahan, dengan ilmu yang disampaikan menerusi risalah ini sedikit sebanyak dapat memberi kepuasan kepada para pembaca sekalian, sekaligus mengurangkan ketegangan di kalangan golongan yang sering menjadikan isu terbabit sebagai bahan polemik dan perdebatan.

Pasti sahaja – menurut jangkaan penyusun - dalam beberapa perkara yang bakal disebutkan di dalam risalah ini terdapat sebahagiannya yang bercanggah atau tidak “sehaluan” dengan pegangan atau amalan “kebiasaan” di kalangan segelintir para pembaca risalah ini. Dalam menghadapi suasana ini, saya menyeru kepada sidang pembaca yang budiman agar mengambil sikap berlapang dada serta berfikiran terbuka dengan menjadikan segala dalil dan hujah yang dipersembahkan oleh para penulis risalah sebagai “tolok ukur” bagi menilai kebenaran maklumat dan kesahihahan fakta yang terkandung di dalam risalah-risalah tersebut. Perlu dicatit juga bahawa, menolak sesuatu pendapat yang jelas memiliki keterangan yang benar dari al-Quran dan al-Sunnah yang sahih secara membuta tuli tanpa mengambil sebarang pertimbangan atau penilaian ilmiah yang sewajarnya bukanlah merupakan ciri seorang mukmin yang benar. Malah, sikap seperti ini adalah bertolak belakang dengan firman Allah yang menganjurkan agar setiap muslimin/muslimat bersikap kritis dan senantiasa mengutamakan sesuatu yang haq di sisi agama. Golongan inilah yang mendapat pujian Allah sebagai golongan yang “mendapat petunjuk” dan “berakal sempurna” sebagaimana firman-Nya:

“(Orang-orang) yang berusaha mendengar perkataan-perkataan yang sampai kepadanya lalu mereka memilih dan mengikuti akan yang sebaik-baiknya (pada segi hukum agama), mereka itulah orang-orang yang telah diberi hidayah petunjuk oleh dan mereka itulah orang-orang yang berakal sempurna” (Surah az-Zumar : 18)

Penyusun mengharapkan agar kehadiran risalah yang serba ringkas ini dapat meniupkan semangat para pembaca untuk terus giat mencari ilmu agama disamping ianya menjadi pemangkin kepada melahirkan lebih ramai lagi golongan muda yang celik agama dan mencintai Sunnah Rasulnya yang sahih, Nabi Muhammad shalallahu-‘alaihi-wasallam. Firman Allah yang mulia di bawah ini dititipkan khas buat tatapan para pembaca sebagai motivasi untuk terus mempelajari ilmu agama-Nya, sekaligus menjadi penutup kepada mukaddimah risalah ini. Sekian dahulu dari pihak kami, selamat membaca. Firman-Nya:

“Dan orang-orang yang berusaha bersunguh-sungguh kerana memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memberi hidayah (memimpin) ke jalan-jalan (agama) Kami, dan sesungguhnya (pertolongan dan bantuan) Allah berserta orang-orang yang berusaha memperbaiki amalannya” (Surah al-‘Ankabut : 69)
Adakah Cara Solat Kaum Wanita
Berbeza Dengan Kaum Lelaki ?

Penulis : Mohd Hairi Nonchi

Ada sebahagian ulama’ berpendapat bahawa cara melaksanakan solat antara lelaki dan wanita berbeza. Mereka mengemukakan banyak hadith untuk menyokong pendapat itu. Tetapi kesemua hadith itu dha’if dan tidak boleh dijadikan sandaran hujah. Pendapat yang terpilih (rajih) adalah tidak wujud perbezaan cara solat antara kaum lelaki dengan kaum wanita, sama ada ketika sujud, duduk dan sebagainya. Hal ini berdasarkan keumuman sabda Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam yang memerintahan agar setiap kaum muslim (merangkumi kaum lelaki dan kaum wanita) solat seperti mana baginda mengerjakannya. Hadith yang dimaksudkan :

“Solatlah kamu sebagaimana kamu melihat (tata cara) aku (mengerjakan) solat” (Hadith riwayat al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari , hadis no: 631)

Inilah juga pendapat (yakni menjadikan keumumam dalil ini sebagai bukti kewajipan meneladani tata-cara perlaksanaan solat Rasulullah dalam segenap sapek, baik di kalangan lelaki mahupun wanita) Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah sebagaimana katanya: “Seorang wanita melakukan dalam solat seperti apa yang dilakukan oleh kaum lelaki” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, jil. 2, ms. 75 dengan sanad yang sahih).

Dalam pada itu, dalam hadith yang diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah, Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam juga bersabda: “Kaum wanita duduk dalam solat sebagaimana duduknya kaum lelaki” (Al-Mushannaf, no: 2788)

Syaikh Nashiruddin al-Albani rahimahullah (1420H) berkata: “Semua hadith yang menyebut tentang sifat solat Nabi menunjukkan solat lelaki dan wanita sama sahaja. Tidak wujud hadis yang menerangkan bahawa wanita dikecualikan daripada sebahagian pergerakan solat itu. Bahkan lafaz hadith yang umum itu merangkumi lelaki dan wanita” (Shifat Solat Nabi, ms. 189)

Selanjutnya, bagi menguatkan pendapat beliau yang menafikan adanya perbezaan tata cara solat antara kaum lelaki dengan kaum wanita, Syaikh Nashiruddin al-Albani rahimahullah juga membawa sebuah riwayat dari al-Bukhari dalam kitabnya, al-Tarikh al-Saghir, muka surat 95 dari ‘Ummu Darda yang berbunyi:

“Sesungguhnya (Ummu Darda) dalam solat, duduk seperti cara duduk lelaki, padahal beliau seorang perempuan yang ahli (pakar) fiqh” (Sifat Solat Nabi, ms. 240)

Selain itu, dalam sebuah hadith yang berbentuk umum juga, Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam bersabda: “Kaum wanita adalah saudara kembar bagi kaum lelaki”

Nama lengkap beliau ialah al-Muhaddits al-‘Allamah Abu ‘Abdirrahman Muhammad Nashr al-Din bin Nuh Najati al-Arna’uth al-Albani, dilahirkan pada 1333H bertepatan dengan 1914M di Skoder ibukota Albania-Eropa. Beliau merupakah seorang tokoh hadis yang unggul di abad ini lantaran usahanya yang banyak menganalisa dan menyaring hadis-hadis Rasulullah daripada riwayat yang sahih dengan yang maudhuk (palsu) dan dha’if (lemah). Beliau telah meninggal dunia pada 1240H, bertepatan dengan 1999M di Yordan. Lebih lanjut mengenai beliau, sila rujuk buku yang bertajuk Biografi Syaikh al-Albani: Mujaddid dan Ahli Hadis Abad Ini, Mubarak Bamuallim, terbitan Pustaka Asy-Syafi’e, Bogor, 2003.




Hadith ini diriwayatkan oleh Abu Daud (hadis no:204) dan at-Tirmizi (hadis no:105) daripada Siti Aisyah. Manakala riwayat ad-Darimi (hadis no:764) pula daripada Anas. Al-‘Aljuni rahimahullah berkata: “Ibn al-Qattan berkata bahawa hadith riwayat Aisyah di atas adalah dha’if (lemah), sedangkan riwayat Anas pula sahih” (Kasyfu al-Khafa’, jil. 1, ms. 248)

Al-Khittabi rahimahullah berkata: “Dalam memahami hadith, kebiasaannya apabila terdapat satu perintah yang ditujukan kepada kaum lelaki, ia juga (sebenarnya) merangkum wanita kecuali jika ada dalil khusus kepada kaum wanita. Sebahagian ulama’ berkata wanita tidak boleh duduk seperti lelaki. Hal ini berdasarkan kepada dua hadith dha’if”.

Al-Baihaqi rahimahullah berkata: “Dalam masalah ini (yakni larangan kaum wanita menyerupai cara solat kaum lelaki -pent) terdapat dua hadith dha’if dan kedua-duanya tidak boleh dijadikan hujah.

Pertama, menurut Atha’ bin al-‘Ajlan, Abu Nadhrah pernah mendengar Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu-‘anhu meriwayatkan bahawa sahabat Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam berkata:

“Rasulullah memerintahkan kaum lelaki supaya merenggangkan anggota tubuh mereka ketika sujud dan baginda memerintahkan kaum wanita merapatkan dan merendahkan tubuh ketika sujud. Baginda juga memerintahkan agar kaum lelaki menyimpuhkan kaki kiri dan menegakkan kaki kanan ketika tahiyat. Sebaliknya, baginda memerintahkan kaum wanita duduk bersilang kaki di bawah paha”

Terhadap hadith ini, al-Baihaqi rahimahullah berkata: “Hadith ini (adalah hadith) mungkar”

Kedua, menurut Abu Muti’ al-Hakam bin Abdullah al-Bakhi, Umar bin Dzar pernah mendengar Mujahid meriwayatkan daripada Abdullah bin Umar bahawa beliau berkata bahawa Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam bersabda:

“Apabila seorang wanita duduk dalam solat, kemudian meletakkan pahanya di atas yang sebelahnya. Apabila sujud, dia merapatkan perutnya kepada kedua-dua pahanya seperti lazimnya dia menutup dirinya. Allah berkata: Wahai para malaikat-Ku, saksikanlah, sesungguhnya Aku telah mengampunkan dosa-dosa wanita itu”

Hadith ini telah diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi. Walau bagaimanapun, para ulama hadith (muhaddith) telah menilai hadith ini sebagai hadith dha’if kerana di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Abu Muti’ al-Bakhi. Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Ibn Ma’in berkata bahawa hadith ini tidak boleh dikira sebagai hujah. Dalam masa yang lain pula, beliau berkata hadith ini dha’if. Al-Bukhari juga sependapat dengan beliau dan menambah bahawa perawinya merupakan seorang Ahli Ra’yi. Demikian juga komen al-Nasaa’i” (Lisan al-Mizan, jil. 2, ms. 334)

Ketiga, Yazid bin Abu Habib berkata bahawa Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam pernah melewati dua orang wanita yang sedang mengerjakan solat. Kemudian baginda shalallahu-‘alaihi-wasallam bersabda:

“Ketika kamu sujud, rapatkanlah sebahagian anggota ke tanah. Dalam keadaan itu, wanita tidak sama kaum lelaki” (Diriwayatkan oleh Abu Daud dan al-Baihaqi)

Hadith di atas adalah hadith mursal dan termasuk dalam hadith dha’if. Ibn Abi Syaibah menyebutkan bebrapa atsar daripada sebahagian ulama’ salaf mengenai perbezaan duduk antara lelaki dan wanita. Hujahnya berdasarkan firman Allah dan sabda Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam. Kemudian, beliau menyebut daripada sebahagian ulama’ salaf yang lain bahawa cara mengerjakan solat bagi lelaki dan wanita adalam sama. (Al-Mushannaf, jil. 1, ms. 242)

Selain itu, Syaikh Muhammad bin Soleh al-‘Utsaimin rahimahullah juga turut menolak hujah yang membezakan cara solat kaum wanita dengan kaum lelaki. Menurutnya, kenyataan bahawa wanita tidak boleh merenggangkan tubuhnya di dalam solat sebaliknya hendaklah dirapatkan, boleh disanggah dalam beberapa aspek :

i. Alasan yang dikemukakan tidak dapat menolak kekuatan nas yang menyatakan bahawa wanita dan lelaki adalah sama dari segi mengamalkan hukum. Lebih-lebih lagi Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam pernah menyuruh semua umat Islam mendirikan solat seperti baginda mendirikannya. Perintah ini berbentuk umum, merangkumi lelaki dan wanita.

ii. Kenyataan di atas boleh dibatalkan ketika seorang wanita mengerjakan solat bersendirian. Wanita dituntut mengerjakan solat bersendirian di rumahnya tanpa kehadiran kaum lelaki. Ketika itu, dia tidak perlu merapatkan tubuhnya kerana tidak dilihat oleh lelaki.

iii. Mereka mengatakan bahawa wanita mesti mengangkat kedua-dua tangan ketika bertakbir. Sedangkan perbuatan itu lebih memalukan berbanding merenggangkan tubuh.

Pendapat yang tepat, wanita boleh melakukan setiap perkara yang dilakukan oleh lelaki dalam solat. Dia mesti mengangkat tangan dan merenggangkan anggota tubuhnya. Dia mesti meluruskan tulang belakang ketika rukuk dan menjauhkan sedikit perut daripada kedua-duabelah pahanya.Begitu juga meninggikan kedua-dua belah paha daripada kedua lutut ketika sujud. Dia juga perlu bersimpuh di atas lantai (tawarruk) ketika tahiyat akhir. (Al-Syarh al-Mumti’, jil. 3, ms. 303-304)

Jika seorang wanita mengerjakan solat di tempat yang boleh disaksikan oleh kaum lelaki (tempat yang terbuka) seperti di Masjid al-Haram atau di tempat awam kerana terdesak, dia hanya perlu menjaga auratnya agar tidak terbuka, bukan merapatkan anggotanya. Al-Imam al-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya, al-Majmu’, jil. 3, ms. 455, menyebut wanita berbeza daripada lelaki dalam hal mengerjakan solat hanyalah dalam perkara-perkara berikut :

i. Wanita tidak wajib solat berjemaah di masjid. Berbeza dengan lelaki, dia diperintahkan berjemaah di masjid.
ii. Kedudukan saf imam wanita sama dengan lelaki, iaitu sebaik-baiknya, imam berdiri di tengah antara saf makmum.

iii. Makmum wanita hendaklah berdiri di belakang makmum lelaki, bukannya sama saf dengan lelaki.

iv. Saf paling belakang lebih afdhal daripada saf paling depan apabila wanita mengerjakan solat bersama-sama lelaki.

Demikian secara ringkas penjelasan mengenai persoalan perbezaan cara mengerjakan solat antara kamu wanita dengan kaum lelaki. Apa yang benar, tidak wujud sebarang perbezaan yang ketara antara kedua-duanya melainkan dalam perkara-perkara tertentu sahaja yang sangat terpencil sebagaimana yang telah dijelaskan oleh al-Imam al-Nawawi rahimahullah di atas. Semoga risalah ini dapat memberikan manfaat kepada sidang pembaca, khasnya bagi para muslimah. Wallahu-a’lam.

Alhamdulillah, pada ketika ini terdapat sejumlah buku dan VCD di pasaran yang bermanfaat untuk dijadikan rujukan oleh sidang pembaca sekalian bagi memahami tata-cara perlaksanaan solat Rasulullah berdasarkan keterangan al-hadis atau al-Sunnah yang sahih. Antara buku-buku yang penulis cadangkan adalah:

i. Sifat Solat Nabi: Kompilasi 3 Ulama (Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Bazz, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dan Syaikh Muhammad bin Al-‘Uthaimin), terbitan Media Tarbiyah, Bogor, Jawa Barat, Indonesia, 2007. Buku ini sangat bernilai dalam memberi kefahaman yang jelas berkenaan kaifiat perlaksanaan solat berdasarkan tuntunan Sunnah Rasulullah yang sahih secara teori dan praktikal yang menyeluruh, bermula dari wudhuk sehinggalah kepada zikir-zikir selepas solat. Dipersilakan merujuk di sana.

ii. Solatlah Kamu Sebagaimana Kamu Melihat Aku Solat (berserta VCD), Abu Farouk Rasul bin Dahri, terbitan Perniagaan Jahabersa, Johor Bahru, 2007.

iii. Sifat Solat Nabi, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani (edisi lengkap dalam 3 jilid), terbitan Griya Ilmu, Jakarta, 2007.

iv. Sifat Shalat Nabi (Edisi Revisi), Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan Media Hidayah, Yogyakarta, Indonesia, 1996.

Perhatian: Untuk membuat tempahan buku atau VCD sifat solat Nabi, sila hubungi sahabat penulis di talian: 013-3701152 (Saudara Nawawi), 014-8711474 (Saudara Ismail) dan 017-6240390 (Saudara Abu Nurul).

Penulis : Mohd Hairi Nonchi

  © Blogger template 'Soft' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP